Kapolresta Barelang Kombes Pol Nugroho Tri N mengekspos kasus tindak pidana perdagangan orang, Kamis (14/7/2022). Foto: ist

BATAM (BATAMLAGI.COM) – Para pelaku kasus penyelundupan Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau TKI dibekuk jajaran Polresta Barelang. Empat orang tersangka dibekuk di Kabupaten Lombok Tengah. Kini mereka mendekam di sel tahanan Mapolresta Barelang.

Para pelaku terlibat dalam tindak pidana perdagangan orang dan atau perlindungan Pekerja Migran Indonesia yang tenggelam di Perairan Pulau Putri, Pantai Nongsa, Kecamatan Nongsa.

Kapolresta Barelang Kombes Pol Nugroho Tri N, Kamis (14/7/2022), mengatakan, pelaku yang berhasil diamankan berjumlah 4 orang yakni berinisial AS (52 tahun), HM (35 tahun), T (46 tahun), AD (46 tahun) dibekuk di Kabupaten Lombok Tengah.

Korban sebanyak 30 orang CPMI (calon pekerja migran Indonesia) yang berada di kapal, serta 7 orang CPMI yang masih berada di penampungan.

Kapolresta menjelaskan, peran pelaku AS, HM sebagai perekrut CPMI dari daerah asal Lombok, kemudian menyerahkan keempat CPMI kepada pelaku T untuk diberangkatkan ke Malaysia.

“Pelaku T juga sebagai perekrut selanjutnya untuk diberangkatkan ke Malaysia. Sebelumnya pelaku T sudah pernah memberangkatkan CPMI secara ilegal ke Malaysia,” ujar Kapolresta.

Kemudian pelaku AD berperan sebagai orang yang mengurus penampungan di Batam, menjemput dan mengantar CPMI dari bandara – penampungan, dan berkomunikasi dengan pengurus yang ada di Malaysia serta berkomunikasi dengan AR selaku orang yang membawa CPMI ke Pantai Nongsa, serta berkomunikasi dengan tekong dan pemilik kapal.

“Para pelaku mendapat keuntungan sebesar Rp. 1.500.000 hingga Rp. 7.500.000 per orang atau per CPMI untuk mengurus proses keberangkatan dari Batam ke Malaysia,” paparnya.

Dijelaskan Kapolresta, kronologis kejadian bermula pada Kamis (16/6/2022) sekira pukul 20.05 WIB, Sat Reskrim Polresta Barelang mendapatkan informasi adanya speedboat karam yang membawa CPMI ilegal dari Indonesia menuju Malaysia dengan cara tidak resmi di Perairan Pulau Putri Pantai Nongsa.

Setelah menerima informasi tersebut, Sat Reskrim mendatangi seputaran TKP yaitu di Pantai Nongsa Kelurahan Sambau, Nongsa. Diperoleh informasi bahwa, para CPMI ilegal itu sudah diamankan oleh TNI angkatan laut Batam sebanyak 23 orang yang selamat, dan dibawa ke Mako Lanal Batam di Tanjung Sengkuang.

“Jumlah CPMI yang tenggelam tersebut yaitu 30 orang dengan rincian 23 orang selamat, 6 orang belum ditemukan dan 1 orang ditemukan sudah meninggal atas nama Ahmad Hanafi asal lombok di perairan Laut Singapura,” kata Kapolresta.

Berawal dari laporan informasi dari masyarakat terkait peristiwa tersebut, selanjutnya Unit VI Satreskrim Polresta Barelang bersama Unit I dan Unit Opsnal Polresta Barelang yg dipimpin Kasat Reskrim Polresta Barelang Kompol Abdul Rahman, melakukan Penyelidikan dan penyidikan di lapangan.

“Didapati berdasarkan informasi bahwa terduga pelaku AS, HM, AD dan T berada di Kabupaten Lombok Tengah. Kemudian tim berangkat menuju ke tempat tersebut, sehingga Rabu 6 Juli 2022 keempat tersangka tersebut berhasil diamankan dan dibawa ke Polresta Barelang,” paparnya

Atas peristiwa tersebut, Kapolresta menghimbau masyarakat Kota batam jangan tergiur oleh orang yang mengajak untuk diberangkatkan ke Singapura dan Malaysia untuk menjadi PMI ilegal.

“Silahkan melalui ketentuan dan proses yang ada, takutnya jika secara ilegal tanpa adanya pelatihan dari Disnaker atau tanpa dokumen yang lengkap, ditakutkan terjadi pelecehan dan intiminasi dari negara yang akan dituju. Tanpa adanya perlindungan UU Tenaga Kerja,” imbuhnya.

Dalam perkara ini diamankan barang bukti 1 handphone milik pelaku AS, 1 handphone milik pelaku HM, 1 lembar bukti pemesanan tiket pesawat dari Lombok ke Batam, 3 handphone milik pelaku AD, 1 lembar bukti transfer dari pelaku AD, 1 buku rekening BNI milik pelaku AD, 1 handphone milik pelaku T, 2 buku rekening pelaku T, 3 handphone, 1 buku tabungan rek BNI, 1 buku catatan pengeluaran untuk keberangkatan CPMI.

Atas perbuatannya para pelaku dijerat Pasal 4, pasal 7, pasal 48 UU RI No 21 Th 2007 Tentang Perdagangan Orang dan atau Pasal 81 jo Pasal 83 UU RI Nomor 18 Tahun 2017 Tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia.

“Pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama penjara seumur hidup dan pidana denda paling sedikit Rp 200 juta, dan paling banyak Rp 5 miliar,” pungkasnya.(*/srd)