Abdul Sidik, tersangka kasus pencabulan di Polsek Bengkong. Foto: ist

BATAM (BATAMLAGI.COM) – Jajaran Polsek Bengkong membekuk pelaku pencabulan. Pelaku berinisial Abdul Sidik (AS) usia 20 tahun ini merupakan guru ngaji di Panti Asuhan Al Aqsho, Bengkong Sadai pada Senin (27/6/2022) sekira pukul 17.51 WIB.

Kapolsek Bengkong AKP Bob Ferizal mengatakan, peristiwa ini bermula saat korban dititipkan oleh orang tuanya di Panti Asuhan Al Aqsho. Kemudian korban selama ini tinggal dipanti asuhan tersebut sejak tahun 2020.

“Selama tinggal dipanti asuhan tersebut korban mengenyam pendidikan sekolah dan belajar mengaji,” ujar Kapolsek, Kamis (30/06/2022).

Dikatakan Kapolsek, pelaku juga tinggal di panti asuhan itu selama 13 tahun, sejak tahun 2008. Dan selama ini korban dibimbing atau diajari ngaji pelaku. Sejak tahun 2020 pelaku sudah melancarkan aksinya kepada korban.

“Pelaku telah melakukan perbuatan cabul sejak korban tinggal di panti asuhan tahun 2020, dengan cara meraba dada, kemudian meraba bagian vital korban pada saat korban mandi, ataupun saat tidur,” ucapnya.

Pada tahun 2021, pelaku mulai menyetubuhi para korban saat korban mandi ataupun korban sedang tidur di kamar korban.

“Perbuatan tersebut sudah beberapa kali dilakukan pelaku hingga terakhir tanggal 17 Juni 2022,” paparnya.

Lanjut Kapolsek, perbuatan pelaku diketahui orang tuanya, ketika korban sedang libur sekolah dan korban pulang ke rumah orang tuanya. Korban bercerita kepada orang tua tentang adanya peristiwa tersebut.

“Sehingga pada hari Senin tanggal 27 Juni 2022 orang tua korban membawa korban ke RS Embung Fatimah untuk memeriksa kemaluan korban. Dan dari hasil pemeriksaan diketahui bahwasanya keempat korban organ vital sudah rusak atau tidak utuh lagi. Dan selanjutnya orang tua korban melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Bengkong,” ucapnya.

Kapolsek juga mengatakan, setelah menerima laporan dari orang tua korban, pada Senin (27/6/2022) sekira pukul 17.51 WIB, Unit Reskrim yang dipimpin Kanit Reskrim Iptu Rio Ardian bergerak melakukan penyelidikan, dan langsung mendatangi tempat kejadian perkara Panti asuhan Al-Aqsho Bengkong Sadai.

“Dan langsung mengamankan pelaku AS yang tinggal di Panti Asuhan Al-Aqsho, selanjutnya pelaku dibawa ke Polsek Bengkong untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” bebernya.

Masih kata Kapolsek, ada sebanyak 10 orang anak yang masih di bawah umur yang menjadi korban. 4 orang dirudapaksa dan 6 orang dilakukan pencabulan oleh pelaku.

Berdasarkan keterangannya pelaku AS melakukan perbuatan bejat selama ini dikarenakan sering melihat video seksi di Facebooknya.

“Sudah berada di panti asuhan sejak umur 8 tahun, kurang lebih selama 15 tahun di besarkan di panti asuhan tersebut, dan diberi kepercayaan menjadi guru ngaji sejak lulus sekolah,” ujar Kapolsek.

Pelaku melakukan perbuatan tak senonoh kepada korban dengan modus selalu memberikan jajan kepada korban yang berumur di bawah 8 – 11 tahun.

“Kemudian untuk korban yang berumur 11 – 17 tahun pelaku membujuk rayu korban dan mengancam memukul dengan rotan apabila memberitahukan kepada orang lain ataupun terhadap orang tua,” paparnya lagi.

Atas perbuatannya itu, pelaku dijerat dengan Pasal 81 ayat (3) Jo, Pasal 82 ayat (2) UU RI No 17 tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti UU No 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI No.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, dengan Pidana Penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 Tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar.

Berkaca dari kasus ini, Kapolsek mengimbau orang tua yang memiliki anak yang akan dititipkan ke pondok atau panti asuhan, agar tetap melakukan pengawasan.

“Jangan sepenuhnya kita memberikan kepercayaan kepada panti asuhan sehingga orang tua tidak mempunyai tanggung jawab. Orang tua mempunyai tanggung jawab walapun anaknya sudah di titip di panti asuhan. (kasus) ini menjadi pembelajaran bagi kita semua dan masyarakat. Kami pastikan pelaku akan dijerat dengan hukuman yang seberat- beratnya,” tegasnya.

Pendamping Perempuan dan Anak dari P2TP2A, Ratnawati Sitorus mengatakan, kepada orang tua ataupun siapapun itu ketika memilih pesantren atau yang akan menitipkan anaknya ke panti asuhan, agar kroscek terlebih dahulu panti asuhan tersebut apakah sesuai dengan SOP yang ada di pemerintah.

“Karena kejadian ini bukan sekali atau 2 kali bukan hanya di Batam, tapi juga di Indonesia. Jadi kami mengharapkan ayolah kita sama-sama kita jaga anak kita karena anak adalah generasi penerus bangsa,” imbaunya.(*/srd)