Dir Reskrimsus Polda Kepri Kombes Pol Teguh Widodo menunjukkan bukti kejahatan pelaku.. Foto: ist

BATAM (BATAMLAGI.COM) – Pihak Dit Reskrimsus Polda Kepri terus menyelidiki kasus kejahatan skimming yang dilakukan pelaku berinisial VTG yang merupakan warga negara asing (WNA) bertindak sebagai pelaku utama, JP alias J yang turut serta membantu dan CCM yang merupakan kekasih VTG dan ikut serta membantu VTG dan JP. Satu pelaku masih diburu.

Dir Reskrimsus Polda Kepri Kombes Pol Teguh Widodo mengatakan, tentang banyaknya kartu magnetik yang dimiliki oleh pelaku ini masih terus diselidiki pihaknya.

“Kemudian terkait dengan aksi pelaku VTG ini melakukan aksinya tidak sendirian, dan dibantu oleh dua orang warga Negara Indonesia. Aksinya telah dijalankan semenjak bulan April 2022, dan kami terus mengejar seorang pelaku lagi yang berinisial A yang kemungkinan seorang warga negara asing juga,” ujar Teguh Widodo saat konferensi pers di Polda Kepri, Selasa (24/5/2022).

Juga di tempat yang sama, Kepala Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian Kantor Imigrasi Batam, Tessa Harumdilla juga mengatakan, dengan kasus tersebut, imigrasi tentunya akan terus melakukan pengawasan dan sinergi dengan pihak kepolisian. Karena ini merupakan kasus yang sudah lama dilakukan, dan jaringan yang perlu dipecahkan bersama-sama.

“Dan terkait skimming ini, dengan dibukanya jalur internasional menjadikan banyaknya orang asing yang datang, dan melakukan kunjungan ke wilayah Indonesia dengan menggunakan visa on travel, pintu masuknya berada di Bali. Dan oleh karena itu bersama-sama kita mengantisipasi hal tersebut. Untuk keimigrasian dalam kasus skimming ini tentu tidak sesuai dengan maksud dan tujuan keberadaannya di Indonesia,” kata Tessa.

Diberitakan sebelumnya, setelah berhasil melakukan kejahatan skimming atau mencuri data nasabah Bank Riau Kepri yang dipasang di sejumlah ATM, ketiga tersangka kabur. Mereka akhirnya dibekuk di Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) oleh penyidik Ditreskrimsus Polda Kepri.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 46 ayat (2) jo pasal 30 ayat (2) dan/atau pasal 51 ayat (2) jo pasal 36 UU ITE dan/atau pasal 55 ayat (1) jo pasal 56 ayat (1) Kuhpidana, Pasal 46 ayat (2) jo pasal 30 ayat (2) dengan pidana penjara paling lama 7 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 700 juta, dan atau pidana penjara paling lama 12 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 12 miliar.(*/srd)