Kantor Pengadilan Agama Kelas 1A Batam. Foto: BatamLagi.com

BATAM (BATAMLAGI.COM) – Ribuan pasangan suami istri (Pasutri) bercerai di Pengadilan Agama Kelas 1A Batam sejak tahun 2021. Pasutri yang masih dalam usia produktif itu mulai 30 hingga 40 tahun, ingin berpisah karena ekonomi hingga tidak memenuhi kewajiban kepada suami.

“Rincian cerai gugat (pihak perempuan yang mengajukan permohonan) sebanyak 1.424 perkara, dan cerai talak (pihak laki-laki yang mengajukan permohonan) sebanyak 568 perkara,” ujar Humas Pengadilan Agama Batam, Drs Azizon SH, MH, Jumat (4/2).

Mantan Ketua PA Siantar ini mengatakan, kebanyakan yang mengajukan perceraian atau gugat cerai adalah kaum hawa.

“Kebanyakan (jumlah) yang mengajukan gugatan cerai perempuan, berikutnya laki-laki,” paparnya.

Dijelaskannya, di tahun 2021, angka perceraian mencapai 1.992 perkara. Dengan rincian cerai gugat 1.424 perkara, dan cerai talak 568 perkara.

“Dari perkara tersebut, ada yang dikabulkan, dan ada juga yang kita gugurkan,” ungkapnya.

Ditanya, terkait apa penyebab perceraian itu? Katanya di antaranya penyebannya adalah karena dipengaruhi oleh faktor ekonomi, perselingkuhan hingga KDRT.

“Di Batam banyak perselingkuhan. Ada banyak duit selingkuh, itu kalau laki-laki. Kalau soal ekonomi tak ada duit begaduh. Kalau ada duit abang sayang, tidak ada duit abang ditendang,” katanya sembari tertawa.

Pria yang sudah tahun 2019 di Batam menjadi hakim di PA Batam ini mengatakan, faktor utama gugat cerai banyak karena perekonomian.

“Yang terbanyak karena faktor ekonomi, ada juga selingkuh suaminya, KDRT dan tidak memenuhi kewajiban sebagai istri,” paparnya.(*/srd)