Hasil bangunan Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) Kemen PUPR di Kelurahan Mangsang. Foto: BatamLagi.com.

BATAM (BATAMLAGI.COM) – Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR) terus berlanjut. Bahkan di Kecamatan Sei Beduk kerap “disasar” program ini.

Seperti di Kelurahan Mangsang. Kelurahan ini giliran mendapatkan bangunan foodcourt dan studio kerajinan. Proyek tersebut berasal dari anggaran APBN tahun 2021. Namun, hingga Januari 2022, masih ada pengerjaan seperti pengecatan.

Frans, warga setempat mengatakan, pembangunan itu harusnya selesai hingga akhir Desember 2021, yang merupakan batas adendum yang diberikan.

“Tapi hingga Januari 2022 masih ada pengerjaan,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, pengerjaan proyek itu molor dari jadwal yang tetapkan. Maka pemanfaatannya untuk masyarakat akan semakin lama. Apalagi ia melihat, pembangunan proyek kotaku itu tidak rapi.

“Bangunan itu dibangun di atas gundukan (timbunan) tanah, tapi gundukan tanah itu tidak dipondasi. Ya kelihatannya seperti asal jadi. Malah terkesan kumuh,” ucapnya.

Ia juga mempertanyakan, apakah layak ruangan kamar yang akan digunakan untuk studio kerajinan itu tingginya hingga plafon sekitar 2,5 meter. Karena cukup rendah.

“Tukang yang mengerjakan juga mengakui kalau tingginya ruangan itu tidak layak (terlalu rendah),” ujarnya.

Menurutnya, sebelumnya di Kecamatan Sei Beduk juga mendapatkan pembangunan jalan dari program yang sama, yakni di Kelurahan Duriangkang.

Pantauan di lokasi, hingga 26 Januari masih ada pengerjaan di proyek tersebut. Tampak tukang masih melakukan aktifitas, ada yang mengecat dan melakukan pembenahan lainnya. Tampak drainase masih tanah liat.

Papan spanduk pelaksanaan proyek sudah tumbang ke tanah dan berlumur lumpur. Saat dibersihkan, papan itu tertera biaya (BPM+swadaya sebesar Rp1.014.211.000. Dari BPM Rp 995.000.000 dan Swadaya Rp 19.212.000. Pelaksana pekerjaan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Mangsang. Jumlah tenaga 20 orang, penerima manfaat 318 jiwa. Waktu pelaksanaan 120 hari mulai tanggal 24 Agustus 2021. Padahal dana dari PUPR ditetapkan Rp 1 miliar, bukan Rp 995 juta.

Sementara itu, Koordinator Kotaku, Kota Batam, Yesfirika yang dikonfirmasi Senin (31/1) di kantornya, mengatakan, proyek di Mangsang itu sudah selesai dikerjakan. Namun, adanya pengerjaan hingga Januari itu karena ada cat yang memudar.

“Kalau pembangunan sudah selesai. Karena catnya memudar, saya suruh mengecatnya kembali,” ujarnya.

Dikatakannya, dalam dua hingga tiga bulan ke depan, bangunan itu akan diserahterimakan ke masyarakat melalui kelurahan. Ia juga mengatakan, jika bangunan tersebut sudah sesuai spesifikasi. Drainase memang tidak masuk dalam anggaran. Dalam kegiatan ini, pihaknya hanya sebagai tenaga pendamping saja. Dan yang mengerjakan adalah kelompok masyarakat.

“(Kami) sebagai pendamping, yang mengerjakan kelompok masyarakat,” ujarnya.

Untuk pendanaan langsung disalurkan ke pihak Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) kelurahan.

“Dananya yang mengurus BKM untuk pembangunan, mencari pekerja sampai selesai,” ucapnya.

Kembali ia mengatakan, jika pihaknya hanya tenaga kontrak PUPR.

“Kami sifatnya pendamping. Jika proyek selesai, ya selesai kontraknya,” paparnya.

Terkait berapa banyak kegiatan pembangunan Kotaku selama 2021, wanita yang akrab dipanggil Rika ini mengaku lupa. Ia hanya menyebutkan anggaran dananya tiap kegiatan Rp 700 juta hingga Rp 1 miliar.

“Di Setokok (Barelang) yang mendapat bantuan Rp 700 juta,” imbuhnya.

Wanita ini juga menunjukkan dana anggaran untuk bangunan di Mangsang itu sebesar Rp 1 miliar.

Sedangkan untuk dana swadaya Rp 19 juta lebih itu berasal dari masyarakat. Dalam artian, meski warga ikut mengerjakan bangunan tersebut, tidak diupah hingga mencapai besaran swadaya tersebut.

“Kalau dana swadaya (Rp 19 jutaan) dari masyarakat, itu diperoleh dari tenaga masyarakat yang mengerjakan,” katanya.(*/srd)