Kapolresta Barelang Kombes Pol Nugroho Tri Nuryanto daidampingi Kasi Humas Polresta Barelang AKP Tigor Sidabariba saat konferensi pers, Jumat (28/1). Foto: ist

BATAM (BATAMLAGI.COM) – Jajaran Polresta Barelang berhasil mengungkap kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Enam pelaku berhasil dibekuk. Polisi juga berhasil menyelamatkan sekitar 50 calon Pekerja Migran Indonesia (PMI).

“Pengungkapan berawal dari penangkapan pelaku Y (48 Tahun) dan Z (37 Tahun),” ujar Kapolresta Barelang Kombes Pol Nugroho Tri Nuryanto, SH, SIK, MH saat memimpin langsung konferensi pers pengungkapan kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), dan atau Orang Perseorangan Dilarang Melaksanakan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI), yang didampingi oleh Kasat Reskrim Polresta Barelang Kompol Reza Morandy Tarigan, SIK, MH, Kasi Humas Polresta Barelang AKP Tigor Sidabariba, S.H, dan Kanit PPA Iptu Dwi Dea Anggraini, S. Tr.K di Lobby Utama Mapolresta Barelang, Jumat (28/1) pukul 15.00 WIB.

Informasi sebelumnya diperoleh dari Staf KBRI Johor bahwa telah terjadi kapal tenggelam yang diduga berasal dari Pulau Terong, Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam, yang mengakibatkan 6 orang meninggal dunia pada Senin (17/1), yang diduga pelaku Y merupakan pemilik boat yang dinakhodai RD dan M, serta 5 orang PMI yang selamat telah diamankan di Malaysia.

Dikatakan Kapolresta, setelah melakukan proses penyelidikan dan penyidikan kemudian Polsek Belakang Padang berhasil mengamankan 1 pelaku berinisial Z yang bertugas mengecek dan mengisi minyak sebelum berangkat ke Malaysia.

Kemudian setelah mendapatkan keterangan dari pelaku Z, bahwa pelaku Y selaku pemilik boat yang tenggelam melarikan diri. Selanjutnya, Unit VI dan Opsnal Sat Reskrim Polresta Barelang melakukan penyelidikan dan berhasil menangkap Y pada Selasa (25/1) sekira pukul 17.00 WIB di Kos-Kosan Perumahan Baloi, Kecamatan Lubuk Baja, Kota Batam.

Pada Rabu (19/1) sekira pukul 13.50 WIB, tim kembali mengamankan pelaku SL (45 Tahun) di pelabuhan tikus Pandan Bahari Kecamatan Sagulung, Kota Batam, dan menerima kelima calon PMI dan pelaku sebagai tekong boat tersebut dari Lanal Kota Batam, untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di Polresta Barelang.

Kemudian pada Minggu (23/1) sekira pukul 22.30 WIB berdasarkan informasi dari masyarakat bahwa ada penampungan Calon PMI di Perumahan Avante Oceanic Bliss, Kecamatan Bengkong.

Selanjutnya Unit PPA melakukan penyelidikan terhadap laporan masyarakat tersebut, dan benar ditemukan adanya 3 orang calon PMI dan mengamankan 1 orang pelaku berinisial C (45 Tahun).

Pada Rabu (26/1) Satreskrim Polresta Barelang kembali mengamankan para Calon PMI berada di sekitaran Bandara Hang Nadim Kecamatan Nongsa, Kota Batam dengan mengamankan pelaku inisial SA (48 Tahun) dan BS (51 Tahun), serta 9 korban calon PMI ilegal yang akan diberangkatkan ke Malaysia.

Kapolresta Barelang, Kombes Pol Nugroho Tri Nuryanto, SH, SIK, MH mengatakan, sejak tanggal 19 Januari 2022 Polda Kepri melaksanakan Operasi Bunga Seligi 2022 yang menjadi atensi Kapolda Kepri.

Polresta Barelang berhasil mengungkap 4 Kasus PMI dengan mengamankan sebanyak 6 pelaku (5 laki-laki dan 1 perempuan) dan gagalkan kurang lebih 50 orang korban calon pekerja migran Indonesia yang akan diberangkatkan secara ilegal yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sumut, Sumsel, Lampung, Jakarta, Jabar, Jatim, dan NTT, untuk korban sudah kita pulangkan ketempat asalnya dengan berkoordinasi dengan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) di Kota Batam.

Kapolresta Barelang, Kombes Pol Nugroho Tri Nuryanto, SH, SIK, MH menghimbau kepada masyarakat Kota Batam baik tingkat RT, RW, Kelurahan ataupun Kecamatan untuk tidak bosan-bosan memberikan informasi kepada kepolisian.

“Jika ada yang melihat atau mendengar informasi apabila di wilayahnya ada kos-Kosan untuk penampungan PMI ilegal segera melapor ke kantor polisi terdekat. Mari sama-sama kita ungkap kasus penempatan PMI ilegal,” ujar Kapolresta.

Atas perbuatannya pelaku dijerat pasal 81 Jo pasal 83 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI) junto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

“Ancaman hukuman pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 15 miliar,” paparnya.(*/srd)