Penyidik Polsek Lubuk Baja saat memintai keterangan para pihak. Foto: ist

BATAM (BATAMLAGI.COM) – Beredarnya informasi adanya 5 orang yang disekap dan diperas di ruko Komplek Pantai Permata, Kelurahan Tanjunguma, Kecamatan Lubuk Baja, Kota Batam, ternyata hoaks. Ini setelah jajaran Polsek Lubuk Baja menyelidiki postingan yang viral di media sosial tersebut, Minggu (23/1).

Jajaran Unit Reskrim Polsek Lubuk Baja mendatangi Komplek Ruko Pantai Permata, Kelurahan Tanjunguma, Kecamatan Lubuk Baja, Kota Batam, sebagaimana laporan yang diterima Unit Reskrim. Saat melakukan pengecekan di TKP, didapati 4 perempuan di lantai 2 berinsial SS, PDA, ST dan NH.

Kapolsek Lubuk Baja, Kompol Budi Hartono, SIK, MM mengatakan, dari hasil penyelidikan di lapangan bahwa PT. SSP bergerak dalam bidang penyaluran tenaga kerja rumah tangga dalam negeri (perekrutan menjadi Asisten Rumah Tangga), dan sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku. Legalitas yang dimiliki PT. SSP sesuai dengan izin penyalur tenaga kerja.

“ST dan NH merupakan Asisten Rumah Tangga bekerja pada PT. SSP. Dan SS dan PDA merupakan karyawan PT. SSP,” ujar Kapolsek.

Dikatakan Kapolsek, berdasarkan keterangan Komisaris Utama PT. SSP, berinisial M, kepada polisi, bahwa PT. SSP berdiri sejak (23/4/2011) berdasarkan Akta Notaris No. 11 yang dikeluarkan oleh kantor Notaris Vivin, S.H., M.Kn.

“M juga menjelaskan bahwa ST telah bekerja sejak (14/1/2022), sesuai dengan Surat Perjanjian Kontrak Kerja, yang ditandatangani ST,” paparnya.

Kemudian terhadap NH telah bekerja sejak (25/12/2022) sesuai dengan Surat Perjanjian Kontrak Kerja. Salah satu isi kontrak tersebut menjelaskan, pekerja yang tidak finish/ tidak menyelesaikan kontrak kerjanya selama 1 tahun, akan dikenakan denda administrasi Rp. 2 juta di luar ongkos datang, dan biaya lainnya tanpa memandang alasan apapun.

Menurut keterangan SS, selaku supervisor PT. SSP, ST sebelumnya sudah bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) kepada pihak pemakai tenaga kerja yaitu VG di Permata Baloi Kecamatan Lubuk Baja, Kota Batam, sejak (17/01/2022). Namun ST dikembalikan oleh majikannya kepada pihak perusahaan pada (20/01/2022) dikarenakan majikan tidak memiliki kecocokan dalam hal pekerjaan.

“Kemudian NH sudah bekerja sebagai ART kepada pihak pemakai tenaga kerja yaitu NN di Perumahan Bonavista Kecamatan Batam Kota sejak (27/01/2022), namun NH juga dikembalikan oleh majikan pada (17/01/2022), dikarenakan tak memiliki kecocokan. Karena NH sering berbuat onar dan mencuri,” lanjutnya.

Masih kata Kapolsek, SS juga menjelaskan, selama tinggal di mess penampungan, ST dan NH selalu diberikan makanan yang layak dan juga akses untuk berkomunikasi. Kemudian terhadap fasilitas yang diberikan oleh pihak perusahaan sudah memadai seperti tempat tidur, kipas angin, dapur beserta peralatan masak, kamar mandi dan menyediakan kotak P3K.

“Pihak perusahaan melakukan pengawasan kepada ST dan NH selama tinggal di Mess Penampungan, dikarenakan SS dan PDA juga tinggal di Mess yang berada di lantai 3,” tegasnya.

Lanjut Kapolsek, tidak ada permasalahan dengan ST dan NH sebelumnya, namun keduanya meminta pulang ke tempat asalnya.

“Pihak perusahaan dalam hal ini bersedia untuk memulangkan ST dan NH, jika yang bersangkutan terlebih dahulu membayar denda administrasi, biaya akomodasi dan uang saku yang telah dulu diberikan oleh pihak perusahaan, sebagaimana yang tertuang di dalam Surat Perjanjian Kontrak,” ungkap Kapolsek.

Kapolsek juga mengatakan, NH mengakui bahwa terhadap catatan yang telah beredar dan viral di media sosial adalah miliknya. Catatan tersebut dibuatnya pada Sabtu (22/01/2022).

Catatan itu beredar berawal pada Sabtu (22/01/2022) sekira pukul 13.00 WIB, NH membuat catatan tersebut dan kemudian pada saat itu membeli makanan, kemudian melemparkan sebuah catatan yang berisikan tulisannya itu kepada penjual bakpao sambil berkata, “Baca ya mas”. Setelah itu penjual bakpao tersebut mengambil sebuah catatan dan pergi.

NH membuat surat tersebut dengan tujun agar penjual bakpao menyampaikan kepada pihak keluarganya, bukan untuk disebarkan di media sosial, sebagaimana yang telah dilakukan oleh pihak lain (Masyarakat) dalam menyebarkan di Media Sosial.

NH juga mengakui, jika kata-kata “pemerasan” dalam catatan tersebut hanya sebagai akal-akalan, yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya.

“Yang mana seharusnya terhadap denda administrasi serta biaya akomodasi dan biaya saku memang harus dibayarkan kepada pihak perusahaan sebagaimana dalam Surat Perjanjian Kontrak,” papar Kapolsek.

Dijelaskan Kapolsek, dalam hal ini penyidik Unit Reskrim Polsek Lubuk Baja tidak menemukan unsur pidana dengan perekrutan tenaga kerja yang dilakukan oleh PT. SSP.

“Setelah dilakukan penyelidikan terhadap berita/ unggahan yang viral di Media Sosial mengenai adanya penyekapan dan pemerasan adalah hoaks dan tidak benar. Dari fakta-fakta yang ditemukan adalah adanya perselisihan antara Sdri. ST dan Sdri. NH dengan PT. Satria Siaga Persada terkait kontrak kerja,” pungkasnya.(*/srd)