Perekrut PMI dibekuk polisi.

BATAM (BATAMLAGI.COM) – Kasus pengiriman Pekerja Migran Indonesia (PMI) ilegal kembali berhasil diungkap jajaran Ditpolairud Polda Kepri. Dua orang jadi tersangka. Dan menyelamatkan 22 calon PMI. Puluhan calon PMI itu diselamatkan di Moro, Karimun pada Minggu (16/1). Serta di Sagulung, Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri).

Kasubditgakum Ditpolair Polda Kepri, AKBP Nanang, Kamis (20/1) mengatakan, 2 tersangka yang terlibat dalam perekrutan dan pemberangkatan PMI ilegal itu diamankan di lokasi berbeda di Kabupaten Karimun dan Kota Batam.

Dikatakan Nanang, awalnya tanggal 15 Januari pihaknya mendapat informasi dari masyarakat. Usai menerima laporan, kapal patroli polisi menuju sasaran penampungan PMI ilegal di Pasai Moro, pada Minggu tanggal 16 Januari. Tim melakukan pemeriksaan dan ditemukan 11 PMI perempuan di penampungan di Juda Moro, Kabupaten Karimun.

“Ditemukan 11 orang perempuan Pekerja Migran Indonesia yang akan diberangkatkan tanpa dilengkapi dokumen resmi pada sebuah rumah kosong di Pulau Juda, Kecamatan Moro, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepri,” ujarnya.

Lalu, pihaknya melakukan pengembangan kasus tersebut, dengan mendatangi rumah milik tersangka inisial I di Pulau Pasai Moro, Kabupaten Karimun, yang diduga sebagai tempat penampungan PMI. Di rumah tersebut tidak ditemukan PMI, dikarenakan telah melarikan diri sebelum Tim datang.

“Di rumah tersebut Tim menemukan satu speedboat tanpa nama warna biru bermesin tempel merk Yamaha 2 x 200 PK, yang berada tak jauh dari rumah tersangka inisial R yang diduga digunakan untuk mengangkut PMI ke Malaysia,” ujar Nanang.

Selanjutnya, tim menemukan R di Kampung Judai beserta 7 PMI di Moro, Kabupaten Karimun dan 4 orang PMI di Sagulung Kota Batam.

Dari kasus tersebut, polisi berhasil mengamankan 22 PMI ilegal terdiri dari 11 perempuan dan 11 laki-laki, yang sempat disembunyikan pelaku.

“Selain mengamankan dua pelaku, polisi juga menyita speedboat, 2 hape milik pelaku,” paparnya. Informasi terakhir, para PMI itu dievakuasi ke Tanjungpinang, dan segera dipulangkan ke kampung halaman masing-masing, seperti ke Jawa Timur dan NTB.(*/red)