Irwan, tersangka kasus membuat keterangan palsu di kantor polisi. Foto: ist

BATAM (BATAMLAGI.COM) – Lantaran tak bisa membayar minuman beralkohol di Cafe, pria ini ngarang cerita menjadi korban perampokan. Kelakukan Irwan pun ketahuan, sehingga harus mendekam di dalam sel tahanan.

Ceritanya, pria berumur 49 tahun itu mengaku dirampok sekelompok orang di Jalan Diponegoro, lalu melapor ke Polsek Batuaji.

Kanit Reskrim Polsek Batuaji, Ipda Budi Santosa, Kamis (28/10), mengatakan, berdasarkan laporan itu, jajaran Unit Reskrim Polsek Batuaji melakukan penyelidikan di lapangan.

Dalam laporannya, sebelum peristiwa perampokan itu, Irwan mengatakan ia hendak pulang ke rumahnya di sekitar Tanjunguncang, Batuaji, Selasa (26/10) pukul 02.00 WIB.

Dalam perjalanan, ia melihat tali besar warna putih yang melintang. Saat menerobos, motor yang dikendarainya tersangkut di tali.

Tiba-tiba, keluar 6 orang tak dikenal dari semak-semak samping kiri jalan dan mengancamnya dengan senjata tajam.

Ketakutan, korban yang masih berada di atas motor pasrah. Kedua tangannya diangkat ke atas. Lalu pelaku mengambil 1 handphone merk Oppo A5 Ram 4, dan uang tunai Rp 1, 5 juta dan 2  buah helm.

Lalu, pelaku menyuruh Irwan pergi jalan kaki. Sementara motor honda metik yang ditunggangi ditinggal. Di dalam joknya ada 1 lembar STNK. Atas kejadian itu, kepada polisi, korban mengaku mengalami kerugian Rp. 14.750.000.

Namun, saat tim opsnal Polsek Batuaji melakukan penyelidikan dan melakukan pengecekan di seputar jalan raya Hutan Wisata Mata Kucing, diperoleh adanya kejanggalan. Irwan juga mengakui jika laporannya itu tidak benar.

Kanit mengatakan, sebelum membuat laporan, ternyata pada Senin (25/10) sekira pukul 21.30 WIB, Irwan minum-minum di Cafe Dewi Sri di Komplek Ruko Batavia, Sagulung. Di cafe tersebut, Irwan memesan Chivas Regal.

“Selesai minum dan ingin meninggalkan cafe, Irwan tidak sanggup membayar bill sebesar Rp 2.705.000,” ungkap Budi.

Agar bisa keluar dari cafe, Irwan harus meninggalkan jaminan tas berisi dokumen dan 2 helm, dengan perjanjian akan membayar bill usai gajian.

Agar supaya pelaku tidak ditagih nota bill dan pembayaran bisa ditunda, sehingga membuat laporan palsu tersebut.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat pasal 242 Ayat (1) KUHPidana. “Ancaman hhukuman 7 tahun penjara,” tutupnya.(*/red)