Bambu yang akan digunakan sebagai sistem matras di jalan tol. Foto: instagram @kemenpupr

JAKARTA (BATAMLAGI.COM) – Pertama di Indonesia, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) uji coba dan melakukan inovasi dalam konstruksi jalan tol. Salah satu terobosan baru tersebut adalah penggunaan bambu sebagai sistem matras di jalan tol.

Dikutip dari instagram @kemenpupr, pada Minggu (3/10), bahwa bambu tersebut akan digunakan sebagai sistem matras memperkuat daya dukung tanah dalam pembangunan Tol Semarang-Demak.

Adapun pada ruas di jalan tol ini akan terintegrasi dengan tanggul laut ini, dan akan diperkuat oleh matras bambu setebal 17 lapis. Dengan demikian, metode ini akan menjadi yang pertama digunakan di Indonesia dan menjadi tol pertama di Indonesia dengan bahan bambu.

Untuk itu, metode tersebut diharapkan tidak hanya akan memberikan konstruksi tanggul laut terintegrasi dengan jalan tol yang efisien dari segi biaya, namun juga dapat menyediakan infrastruktur yang handal dan berkesinambungan di masa yang akan datang.

Tanggul laut yang terintegrasi dengan jalan tol ini merupakan konstruksi yang baru pertama sekali dilaksanakan di Indonesia sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi Kementerian PUPR dalam pelaksanaannya.

Seperti diketahui, dalam pengujian ini perlu dilakukan karena konstruksi tanggul laut yang terintegrasi dengan jalan tol ini akan dibangun di atas tanah dengan klasifikasi very soft soil. Pengujian terdiri dari dua jenis yaitu uji tarik sistem matras bambu dan uji lentur sistem matras bambu.

Pengujian tarik sistem matras bambu dan uji lentur sistem matras bambu yang baru pertama kali dilaksanakan ini diharapkan dapat memberikan terobosan dalam memberikan solusi perkuatan tanah lunak yang murah dan tepat guna.

Sementara, dikutip dari instagram @anakteknikindo, Dosen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Sri Murni Dewi menjelaskan dalam penelitiannya bahwa penggunaan bambu di jalan tol adalah sebagai pengganti tulangan.

Juga dijelaskan, material bambu memiliki kekuatan sejajar serat yang tinggi, namun kekuatan tegak lurus seratnya rendah.

“Oleh sebab itu, bambu akan terkesan reot ketika dimanfaatkan untuk konstruksi,” ujarnya.(viva)