Salah satu shipyard di Kota Batam. Foto: BatamLagi.com

PINANG (BATAMLAGI.COM) – Hengky Suryawan, salah seorang pengusaha perkapalan dan pelayaran nasional merasa, jika pandemi Covid-19 tidak mempengaruhi bisnis perdagangan kapal tongkang dan kapal tugboat. Karena permintaan terhadap kapal tersebut tetap stabil.

“Kapal tongkang dan tugboat yang kami produksi di Batam tetap terjual, meski harganya meningkat sejak pandemi,” kata Hengky di Tanjungpinang, Senin (30/8).

Menurut Hengky, pihaknya setiap tahun rata-rata memproduksi 40 unit kapal tongkang dan kapal tugboat. Satu unit kapal tongkang dijual dengan harga Rp30 miliar, sementara tugboat Rp20 miliar.

“Kalau sepaket (tugboat dan tongkang) sekarang dijual dengan harga Rp50 miliar,” ujarnya.

Hengky mengatakan pembeli kapal tongkang maupun tugboat kebanyakan pengusaha nasional.

“Jadi pembelinya bukan pengusaha asing. Paling banyak itu justru pengusaha dari berbagai daerah di Indonesia,” katanya.

Dijelaskan, harga kapal tongkang dan tugboat meningkat karena harga bahan baku dan suku cadangnya, naik. Katanya, PT Bahtera Bahari Shipyard yang dinakhodainya juga kesulitan mengimpor suku cadang maupun bahan baku untuk material pembuatan kapal tersebut.

“Kami impor barang-barang yang dibutuhkan itu dari Korea, Ukraina, Jepang dan Cina. Negara-negara itu sempat ‘lockdown’ sehingga kami kesulitan membeli barang-barang untuk memproduksi kapal,” ucap pria yang memulai bisnis produksi kapal tongkang, tugboat dan kapal pesiar sejak tahun 2005 itu.

Lanjut Hengky, bisnis pembuatan kapal ini, menguntungkan. Menurut dia, bisnis pembuatan kapal akan terus berkembang seiring dengan perdagangan mineral, seperti alumina, biji besi, nikel, dan batubara.

“Saat ini, harga bahan mineral yang diekspor meningkat 100 persen, sehingga cadangan devisa Indonesia tetap ada, dengan nilai yang cukup tinggi di tengah hantaman pandemi,” paparnya.(dkm/ask)