Pasar Bintan Centre, Tanjungpinang. Foto ist

PINANG (BATAMLAGI.COM) – Badan Usaha Milik Daerah (PT Tanjungpinang Makmur Bersama) menemukan banyak penyewa lapak di Pasar Baru I, Pasar Baru II dan Pasar Bintan Centre, yang disewakan kembali kepada orang lain dengan harga yang relatif tinggi.

“Ada lapak yang disewa Rp 200.000/bulan, kemudian disewakan kembali dengan nilai mencapai Rp800.000 hingga lebih dari Rp1 juta per bulan,” kata Fahmi, Direktur BUMD Tanjungpinang, Senin (30/8).

Dikatakan Fahmi, pihaknya menetapkan biaya sewa lapak yang relatif murah kepada para pedagang. Nilai sewa lapak tersebut bervariasi, tergantung posisinya.

Lanjutnya, jumlah penyewa lapak yang berjualan lebih sedikit, dibanding penyewa lapak yang menyewakan kembali lapak tersebut.

Padahal sesuai perjanjian sewa-menyewa lapak, penyewa dilarang untuk menyewakan kembali lapak tersebut kepada pihak lain.

“Penyewa lapak dilarang berbisnis lapak. Kami dapat membatalkan perjanjian sewa-menyewa lapak tersebut,” ujarnya.

Fahmi mengemukakan permasalahan tersebut sudah lama terjadi, namun belum dapat diselesaikan. Ia tidak menjelaskan alasan kenapa permasalahan itu sulit dibenahi, bahkan sebelum dirinya menjabat sebagai direktur.

“Perlahan-lahan pasti kami benahi agar lapak itu benar-benar disewa oleh pedagang,” ucapnya.

Ia mengatakan BUMD Tanjungpinang akan melakukan pendataan kembali terhadap lapak yang disewa pedagang, sekaligus memberi nomor pada masing-masing lapak. Nomor dan nama penyewa yang terdata diharapkan mampu mendorong pembenahan penyewaan lapak.

“Kami juga mulai menerapkan pembayaran nontunai bekerja sama Bank Indonesia,” katanya.(dkm/ask)