Blue pass, alat untuk melacak coronavirus disease 2019

BATAM (BATAMLAGI.COM) – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batam mengikuti Rapat Koordinasi Rencana Penggunaan Blue Pass di Kota Batam bersama KBRI Singapura melalui zoom meeting, Jumat (13/8).

“Singapura rencana membantu 1 juta alat Blue Pass, tapi ini harus kita pelajari dulu bagaimana alatnya bekerja,” kata Jefridin.

Dikatakan Jefridin, dalam pertemuan itu, Singapura sangat terbuka untuk kerja sama penggunaan alat Blue Pass untuk tracing kontak erat pasien Covid-19 demi menekan angka kasus penularan.

“Akan kami laporkan dulu ke Pak Wali (Wali Kota Batam, Muhammad Rudi) sebagai pengambil keputusan,” katanya.

Untuk diketahui, Bluepass merupakan alat tracing atau pelacakan kontak erat pasien positif corona. Alat Blue Pass ini sudah digunakan terlebih dahulu di Singapura.

BluePass sudah diuji coba terlebih dahulu kepada seluruh pegawai KBRI Singapura. Alat Blue Pass sendiri dikembangkan oleh D’Crypt, perusahaan teknologi yang didanai Temasek Holdings.

Hadir dalam pertemuan itu, Asisten 1 Setdako Batam, Yusfa Hendri, Kepala Diskominfo Batam, Azril Apriansyah, dan sejumlah pejabat lain.

Dihimpun dari beberapa sumber, Blue Pass bekerja secara otomatis untuk mendeteksi perangkat yang digunakan pengguna lain yang berdekatan pada jarak sekitar 3 meter. Dengan kurun waktu sekitar 10 menit blue pass yang saling berdekatan itu akan merekam ke dalam perangkat pengguna sebagai kontak erat. Alat tanpa GPS ini tidak akan melacak keberadaan pengguna.

Sementara itu, data akan diunduh ke dalam penyimpanan data yang aman. Apabila suatu saat pengguna atau teman kerja yang dites terbukti positif Covid-19, pelacakan kontak pada penyimpanan data akan dilakukan. Data akan secara cepat menginformasikan terkait contact tracing. Perangkat kecil berwarna biru ini ringan dan tahan air serta kapasitas baterai 12 bulan.(mc/red)