Ilustrasi obat Actemra 80 mg/4 ml.

JAKARTA (BATAMLAGI.COM) – Polisi membekuk oknum perawat berinisial RS. Pelaku diduga menimbun obat sisa pasien Covid-19 yang telah meninggal dunia dan menjualnya dengan harga berkali lipat.

Direktur Reserse Narkoba (Diresnarkoba) Polda Metro Jaya, Kombes Pol Mukti Juharsa di Markas Polda Metro Jaya, Rabu (4/8) mengatakan, obat-obatan itu bahkan ada yang dijual hingga mencapai Rp 40 juta.

“Dia jual Rp 40 juta. Coba untungnya berapa puluh juta itu,” ucapnya.

Dia menyebut, salah satu obat terapi Covid-19 yang ditimbun oknum perawat tersebut adalah Actemra 80 mg/4 ml. Padahal, harga eceran tertinggi atau HET yang ditetapkan Kementerian Kesehatan sekitar Rp1,1 juta per boksnya.

Mukti menambahkan, pihaknya berencana melelang barang bukti ini kepada masyarakat yang membutuhkan sesuai dengan HET. Tapi, hal itu akan terlebih dahulu dikoordinasikan dengan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.

“Kita koordinasi dengan jaksa supaya bisa dimanfaatkan obat ini. Nanti untuk barang buktinya hanya uang saja ke pengadilan,” kata dia lagi.

Seperti diberitakan sebelumnya, Polda Metro Jaya membongkar penimbunan obat terapi Covid-19. Kali ini, salah satu pelakunya adalah oknum tenaga kesehatan.

Dia adalah RS. Tersangka menimbun obat sisa pasien Covid-19 yang telah meninggal dunia. Kemudian, obat dijual dengan harga tinggi.

“Jadi ada pasien yang meninggal dunia obatnya dikumpulkan, nanti kalau sudah terkumpul dia mainkan harganya,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus kepada wartawan, Rabu.

Sindikat ini membeli obat-obatan terapi Covid-19 dengan resep palsu. Mereka kongkalikong dengan oknum pegawai apoteker.

Polisi juga menangkap 23 pelaku lain dalam kasus ini selain RS. Mereka adalah BC, MS, AH, LO, RH, TF, NN, SJ, MS, MH, RB, AH, SO, YN, HH, AA, UF, LP, DW, MI, MR, DS dan MD.(viva)