Ambulan yang membawa jenazah Friska Ginting berada di halaman Kantor Walikota Batam sebelum dimakamkan di TPU Temiang, Rabu (28/7). Foto istimewa

BATAM (BATAMLAGI.COM) – Jenazah Friska Ginting, korban meninggal dunia saat pembongkaran bangunan Pasar Induk Jodoh, Kelurahan Tanjunguma, Kecamatan Lubukbaja, Kota Batam dimakamkan di TPU Temiang, Rabu (28/7).

Sebelum dimakamkan, jenazah dibawa menuju kantor Walikota Batam menggunakan ambulan bertuliskan “Korban Kadisperindag Gustian Riau”.

Salah seorang keluarga korban mengatakan, pihaknya sengaja membawa jenazah ke kantor Pemko Batam untuk meminta pertanggungjawaban saat terjadi pembongkaran atau penggusuran. Karena sangat merugikan para pedagang.

“Pemko Batam harus bertanggungjawab atas insiden ini, apalagi sampai memakan korban jiwa,” ujarnya.

Jenazah diiringi ratusan warga Pasar Induk Jodoh, mendatangi Kantor Walikota dan DPRD Kota Batam.

Salah seorang orator menyampaikan protes dan meminta pertanggung jawaban atas meninggalnya salah seorang pedagang di Pasar Induk Jodoh tersebut.

“Mana Gustian Riau (Kepala Disperindag Kota Batam) mana Pemko Batam kalian harus bertanggung jawab,” kata salah seorang warga menggunakan pengeras suara.

Warga mengungkapkan kekecewaannya karena sebelum penggusuran itu, telah meminta waktu 2 hari untuk melansir barang-barangnya. Namun tidak dikabulkan. Apalagi saat ini Batam menjalani PPKM level 4.

“Dimana hati nurani kalian, kami minta waktu penundaan tetapi kalian tidak mau mendengarkan, kami orang susah bukan orang kaya yang bisa pindah kapan saja,” paparnya.

Sekitar 20 menit, usai menyampaikan aspirasinya, warga yang menggunakan puluhan mobil langsung menuju pemakaman Sei Temiang, Kecamatan Sekupang.

Diberitakan sebelumnya, Tim terpadu Pemko Batam melakukan pembongkaran Pasar Jodoh pada Senin (26/7). Pasar itu rencananya akan dibangun pasar modern.

Saat prosesnya pembongkaran mendapat penolakan warga, tiba-tiba Friska boru Ginting dilarikan, dan meninggal dunia setiba di rumah sakit.

Diduga korban meninggal karena shock. Tim terpadu akhirnya menghentikan pembongkaran dan membubarkan diri.(*/red)