Ilustrasi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

BATAM (BATAMLAGI.COM) – Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) varian Alpha dan Delta ditemukan di Batam dan Tanjungpinang, Provinsi Kepri. Temuan ini diungkap Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Kota Batam.

“Dengan adanya virus varian baru di Kota Batam dan Tanjungpinang, maka kita berharap pemerintah lebih proaktif dalam memberikan imbauan kepada masyarakat,” kata Budi Santosa, Kepala BTKLPP Kota Batam, kepada wartawan, Rabu (21/7).

Dijelaskan Budi Santosa, sampel virus Covid-19 varian Alpha ditemukan dari 1 warga Batam dan 1 warga Tanjung Pinang. Sedangkan sampel Covid-19 varian Delta ditemukan dari seorang pasien berdomisili di Kota Batam.

“Varian tersebut ditemukan saat BTKLPP mengirimkan 400 sampel ke laboratorium,” ujarnya.

Dengan ditemukan virus Covid-19 varian baru tersebut yang penularannya cepat, pihaknya berpesan agar masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan. Karena penularan varian baru ini sangat cepat.

“Jangan sampai lengah, sebab virus ini sangat cepat menular. Namun sepanjang warga mentaati prokes, maka penyebaran virus ini bisa ditekan,” ujarnya.

Budi juga mengatakan, Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat yang diterapkan pemerintah sudah tepat. Oleh sebab itu, warga harus tetap disiplin dan mentaati aturan.

“Sudah tepat yang dilakukan pemerintah melalui program PPKM. Ini menjadi solusi terbaik untuk menekan penyebaran virus,” tuturnya.

Seperti diketahui, varian Alpha (B.1.1.7) pertama kali ditemukan di London dan beberapa bagian Inggris.

Gejala yang ditimbulkan varian Alpha berupa: Batuk terus-menerus, Sakit dada, demam Kehilangan indera rasa dan bau, Sakit kepala, Kelelahan, Nyeri otot, Diare, Kebingungan, serta Ruam kulit.

Dan Varian Delta (B.1.6.1.7) pertama kali terdeteksi pada Oktober di India. Varian ini juga lebih mudah menular dan mampu menghindari respons imun tubuh.

Varian delta juga diprediksi segera menjadi virus yang paling dominan di dunia dan menyebabkan wabah cepat di negara-negara tanpa tingkat vaksinasi yang tinggi.

Gejala yang ditimbulkan dari varian ini antara lain: Sakit kepala, sakit tenggorokan, pilek, batuk, sesak napas, sakit lepala, kelelahan, kehilangan indera perasa atau penciuman.(*/red)