Polisi saat memperlihatkan pelaku pemalsuan surat rapid antigen berinisial DSH (36) di Mapolda Kepri, Senin (28/6). Foto istimewa

BATAM (BATAMLAGI.COM) – Seorang wanita berinisial DSH (36), warga Tiban Lama, Kota Batam dibekuk polisi. Pasalnya, DSH memalsukan surat rapid test antigen. Perbuatan terlarang itu sudah dilakukan 20 kali.

Kasubid Multi Media Humas Polda Kepri, AKBP Surya Iswandar, Senin (28/6), mengatakan, pelaku diamankan di salah satu supermarket di Kecamatan Lubukbaja.

“(pelaku) kita amankan di sebuah supermarket di Kecamatan Lubukbaja pada Sabtu (26/6) sekitar pukul 11.45,” ujar Iswandar.

Dikatakan Iswandar, kronologisnya, pada Sabtu (26/6) Tim Opsnal Subdit III Polda Kepri mendapat informasi dari masyarakat ada seorang pegawai salah satu supermarket di salah satu perusahaan penyalur tenaga kerja yang membuat surat rapid test antigen palsu, yang digunakan untuk melamar pekerjaan sebagai SPG di supermarket.

Lalu, tim melakukan penyelidikan di lapangan.

“Tim berhasil mengamankan pelaku dan surat rapid tes antigen palsu yang tercantum kop surat dan stempel klinik kesehatan yang diduga palsu,” ujar Iswadar.

Lalu, tim kembali melakukan pengembangan dan menemukan barang bukti baru berupa perangkat laptop, printer.

Kepada polisi, pelaku yang merupakan penanggung jawab pada kantor cabang PT AMK, mengaku membuat surat antigen palsu di perusahaan penyalur tenaga kerja PT AMK. Surat rapid test  tersebut merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi pelamar melalui PT AMK tempat kerja pelaku.

Setelah berhasil disalurkan ke perusahaan pengguna, berkas asli pelamar tersebut langsung dikirim ke PT AMK di Surabaya.

“Dari hasil pemeriksaan, kegiatan pelaku membuat surat palsu sama sekali tidak diketahui oleh pihak kantor pusat PT AMK di Surabaya,” imbuh Iswadar.

Belakangan diketahui, jika pelaku sudah membuat surat rapid test antigen palsu sebanyak 20 lembar.

“Sudah 20 kali dilakukan sejak Maret hingga Juni 2021 untuk memenuhi persyaratan. Perbuatan pelaku disangkakan pasal 263 ayat 1 dengan kurungan penjara 6 tahun,” tutupnya.(*/red)