Barang bukti baby lobster yang diselundupkan melalui cargo di Bandara Hang Nadim, Batam. Foto ist

BATAM (BATAMLAGI.COM) – Petugas Bea Cukai Batam bersama Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Batam berhasil menggagalkan penyelundupan benur atau benih lobster di Terminal Kargo Bandara Hang Nadim, Batam, Sabtu (29/5). Siapa pemilik barang haram tersebut?

“Petugas membongkar barang kargo pesawat LA dengan rute Surabaya-Batam tersebut,” kata Kepala Kantor Pelayanan Utama Bea Cukai (KPU BC) Batam, Susila Brata, Senin (7/6).

Barang yang dicurigai itu, lalu diperiksa menggunakan mesin X-Ray. Petugas mendapati bungkusan mencurigakan dalam galon plastik yang disembunyikan dalam keranjang bambu.

Setelah keranjang bambu tersebut dibuka, muncul kecurigaan bahwa barang tersebut berupa benih lobster. Kemudian dilakukan pencacahan barang bukti di Kantor Bea Cukai Batuampar.

“Didapati benih lobster jenis pasir yang disimpan pada 5 kantong plastik transparan ukuran panjang, dan 13 kantong plastik transparan ukuran kecil. Dan benih lobster jenis mutiara yang disimpan pada 1 kantong plastik transparan ukuran panjang,” ungkap Susila.

Setelah dihitung, total benih lobster jenis pasir 12.929 ekor, sedangkan jumlah total benih lobster jenis mutiara 97 ekor, dan nilai barang berdasarkan estimasi harga pasar adalah Rp 1.307.450.000.

Pelaku kasus penyelundupan benih lobster dapat dijerat Pasal 88 jo Pasal 16 ayat 1 dan/atau Pasal 92 jo Pasal 26 ayat 1 Undang-Undang (UU) Republik Indonesia Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 44 tahun 2009 tentang Perikanan dan/atau Pasal 87 jo Pasal 34 UU RI Nomor 21 tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan dengan ancaman hukuman penjara maksimal 6 tahun dan denda Rp 3 miliar.

“Tersangkanya masih dikejar sementara benih lobster yang diperkirakan senilai Rp 1,3 miliar dilimpahkan ke BKIPM Batam,” tutupnya.(*/red)