Warga negara (WN) Inggris berinisial IDB, tersangka kasus narkotika. Foto istimewa

BATAM (BATAMLAGI.COM) – Warga negara (WN) Inggris berinisial IDB dibekuk petugas Bea Cukai Batam. Dari tangan pria jangkung itu diamankan narkotika jenis kokain, ekstasi dan ganja.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Bidang Bimbingan Kepatuhan dan Layanan Informasi Bea Cukai Batam, Undani kepada wartawan, Kamis (3/6), mengatakan, pengungkapan kasus tersebut bermula saat pihaknya mendapat informasi adanya pengiriman barang mencurigakan pada Rabu (19/5) sekitar pukul 09.30 WIB.

“Petugas Bea Cukai di Kantor Pos mengecek barang kiriman tersebut menggunakan mesin X-ray, dengan hasil menunjukkan terdapat barang berbentuk pil,” ungkap Undani.

Selanjutnya, petugas meminta perwakilan kuasa barang yaitu perwakilan Kantor Pos, untuk membuka paket tersebut sehingga dapat dilakukan pemeriksaan fisik.

“Paket dibuka dan didapati berisi alat pencabut bulu kaki berwarna hijau, satu bungkus plastik obat berisi bubuk yang dilapisi alumunium foil, dan 10 butir pil berwarna merah muda,” ucapnya.

Atas barang yang ditemukan tersebut selanjutnya dilakukan uji kandungan barang di Laboratorium KPU Bea Cukai Batam.

“Hasilnya didapati bubuk yang dilapisi aluminium foil adalah narkotika jenis kokain dengan berat 2,7743 gram, dan pil merah muda adalah pil ekstasi dengan total berat 3,5133 gram,” jelas Undani.

Lanjut Undani, atas temuan tersebut, Bea Cukai Batam selanjutnya berkoordinasi dengan BNNP Kepri melakukan pengejaran terhadap pemilik barang dan berhasil membekuk pelaku.

“Pelaku berhasil ditangkap di salah satu apartemen di Kota Batam pada Kamis, 20 Mei 2021, sekitar pukul 14.50 WIB,” ujarnya.

Di tangan pelaku juga ditemukan ganja. “Bersamanya itu juga diamankan narkotika jenis ganja seberat 41 gram. Barang bukti dan tersangka dilimpahkan ke BNNP Kepri untuk diproses lebih lanjut,” terangnya.

Atas perbuatannya itu, pelaku dijerat dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Pasal 114 ayat (2) dan/atau Pasal 112 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1).

“Dengan ancaman pidana mati/ penjara seumur hidup, atau paling singkat 6 tahun dan paling lama 20 tahun, serta pidana denda maksimum Rp 10 miliar,” tutupnya.(*/red)