Siprianus saat masih berada di RSUD-EF. Foto BatamLagi.com/ist

BATAM (BATAMLAGI.COM) – Kasus kematian Siprianus Apiatus bin Philippus, warga binaan (WB) di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II A Batam berhasil diungkap jajaran Polsek Sagulung. Ternyata, warga binaan yang tersandung kasus pengeroyokan/ perlindungan anak itu tewas setelah dikeroyok 3 tahanan.

Kapolsek Sagulung, AKP Yusriadi Yusuf, Senin (10/5), mengatakan, korban tewas setelah dikeroyok tiga pelaku di dalam tahanan.

“Ia, setelah kami dalami, ternyata Siprianus meninggal karena dikeroyok tiga pelaku yang masih tinggal satu blok dengannya,” kata Kapolsek.

Dikatakan Yusuf, pengeroyokan itu terjadi saat Siprianus dipindahkan ke blok B no 7 Rutan. Sebab sekali dua minggu, ada pergantian blok bagi warga binaan di Rutan. Di dalam blok itu, Siprianus bertemu dengan kepala blok bernama M.Will Yandi dan 2 wakilnya bernama Adi dan Rinaldo.

Lalu, Siprianus disurut mengipas tubuh M. Will Yandi yang saat itu berbaring di atas busa. Permintaan pelaku dituruti oleh korban. Awalnya Siprianus mengipas sambil berdiri. Tapi karena kakinya sakit, ia pun akhirnya duduk.

Melihat Siprianus duduk dan menolak untuk mengipas, Will Yandi emosi. Lalu Siprianu dipanggil. Di depan warga binaan lainnya, Siprianus dipukul bertubi-tubi hingga terkapar di lantai.

Selanjutnya, pelaku Adi datang dari arah belakang Siprianus, sembari memberikan pukulan. Setelah itu, Rinaldo membawa Siprianus ke belakang blok. Di sana, korban juga dipukuli.

Usai dianiaya, Siprianus disuruh istirahat oleh para pelaku. Setelah kejadian ini, Siprianus dirolling lagi ke blok C nomor 8. Sejak tinggal di blok baru itu, Siprianus selalu mengeluh sakit dan sesak nafas.

“Dari hasil otopsi menyebut ada tanda kekerasan tumpul pada perut dan mengakibatkan perdarahan pada organ dalam perut, sehingga memicu respon radang sistemik dan menimbulkan kegagalan multi organ,” ujar Yusuf.

Atas perbuatannya, 3 pelaku dijerat pasal 170 ayat 2 angka 3 e KUHP ancaman 21 tahun dan atau pasal 351 ayat 3 KUHP dengan ancaman hukuman 7 tahun.

“Pengeroyokan tersebut bukan direncanakan, itu dilakukan secara spontan karena Siprianus masih anak baru di dalam blok itu,” ucap Yusuf.

Yusuf juga mengatakan, kasus ini bisa terungkap berkat kerja sama Polsek Sagulung dan Rutan Kelas II A Batam. Selama proses penyidikan dan penyelidikan berlangsung, Rutan kelas II A Batam selalu terbuka dan tidak ada menutup-nutupi kasus tersebut.

“Saya ucapkan terimakasih kepada Rutan kelas II A yang ikut membantu proses ungkap kasus ini,” paparnya.(*/red)