Suasana di Komplek Pertokoan Bumi Indah, Kecamatan Lubukbaja, Rabu (28/4) pukul 19.00 WIB. Foto BatamLagi.com.

BATAM (BATAMLAGI.COM) – Kini, kawasan Nagoya, Kecamatan Lubukbaja, Kota Batam yang merupakan sentra perniagaan di Kota Batam, tak bergairah lagi. Ratusan toko yang ada, sejak sore hari sudah banyak yang tutup pintu. Bahkan para pelaku usaha juga banyak yang “hengkang” dari kawasan tersebut.

“Iya bang, kondisi ini sudah lama terjadi, sejak dilanda Covid-19, ” ujar Ajo yang membuka usaha barbershop di komplek pertokoan Bumi Indah, Kecamatan Lubukbaja, Rabu (28/4) pukul 19.00 WIB.

Diceritakan Ajo, sejak Maret tahun 2020 bertepatan masuknya Covid-19 dari Tiongkok itu, telah merubah kawasan yang menjadi nadi perekonomian kota berbentuk kalajengking ini, bagai tak berdarah lagi.

Ajo mengatakan, kawasan yang selama ini ramai, sudah sepi. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap penghasilan. Hari demi hari pendapatannya terus merosot.

“Jauh bang perbedaannya dengan dulu. Sekarang ini pendapatan saya anjlok hingga 90 persen, ” ucap pria berbadan sedang ini, tanpa menyebutkan penghasilan per bulan dari hasil potong rambutnya.

Ia juga menceritakan, meski kondisi perekonomian saat ini tak menentu, dirinya terus ikhtiar mencari rezeki dengan terus membuka gerainya dari pagi hingga malam.

“Tadi saya pulang sebentar, usai buka puasa kembali buka tempat pangkas ini lagi, ” ujarnya.

Ditanya gerainya tutup jam berapa? “Tak tentu bang, kalo sampai malam tak ada pelanggan, ya tutup, ” ucapnya.

Pantauan wartawan ini, saat hari mulai gelap komplek pertokoan itu hanya diterangi lampu jalan yang redup. Tidak ada lalu lalang pejalan kaki. Terasa lengang. Sesekali melintas mobil dan motor yang datang dari arah simpang trafficlight Martabak Har. Padahal saat itu baru pukul 19.00 WIB. Lepas magrib.

Di antara puluhan toko yang berjajar di kawasan “Cinatown” Itu, hanya lima toko yang masih buka. Di deretan Komplek Sari Jaya Hotel ada tiga toko yang buka – termasuk tempat pangkas Ajo.

Sedangkan di seberang jalan hanya satu toko tas sekalian elektronik yang buka. Seberangnya lagi di Komplek Nagoya Business Centre ada satu toko tas yang buka. Tampak di dua toko itu masih ada pembeli.

Menurut Ajo, toko – toko yang masih buka itu maksimal tutup pukul 20.00 WIB.

“Iya bang, cuma toko itu yang buka. Ntar lagi itu tutup. Paling lama jam delapan malam tutup bang. Kalau toko lainnya sudah tutup tadi sore jam lima,” imbuhnya.

Tak Bisa Bayar Sewa Ruko

Di kawasan itu, sudah banyak para pelaku usaha yang “hengkang” dari kawasan tersebut. Kebanyakan para pedagang tak meneruskan berniaga di kawasan tersebut, karena sudah tak sanggup membayar sewa ruko. Jelas, penyebabnya karena pendapatannya terus menurun.

“Sudah banyak ruko yang tutup, tak jualan lagi, ” kata Herman, karyawan toko obat di Komplek Sari Jaya Hotel.

Katanya, di sekitar komplek perniagaan itu sebelumnya ada beberapa toko obat. Tapi karena tidak dapat menutupi biaya sewa ruko, terpaksa menutup usahanya dan pindah ke tempat lain.

“Di sini dulu ada empat toko obat, mereka sewa, semuanya tutup. Belum lagi yang di komplek sana juga banyak tutup. Pokoknya kalau yang sewa sudah tak kuat lagi, ” ucapnya.

Lanjutnya, toko yang dijaganya itu tetap bertahan di tengah pandemi Covid-19 karena ruko itu sudah milik sendiri.

“Toko ini masih bertahan karena milik sendiri. Bos saya yang punya, ” paparnya.

Herman menuturkan, jika toko yang dijaganya tersebut juga sewa, maka bisa dipastikan nasibnya seperti empat toko obat itu juga. Pasalnya, selama pandemi Covid-19 ini, pendapatan sangat turun.

“Ngeri bang, pendapatannya hanya tinggal dua puluh persen saja bang. Untung ruko ini milik sendiri. Kalo sewa tak tahu lah bang, ” ucapnya.

Masih kata Herman, ruko-ruko yang tutup cukup banyak di kawasan tersebut. Kebanyakan ruko yang kosong itu akan disewakan lagi oleh pemiliknya. Namun dengan kondisi perekonomian yang lagi down, ruko-ruko itu belum berpenghuni.

“Ruko – ruko yang tutup itu disewakan lagi oleh pemiliknya. Tapi tak tahu, apa ada yang sewa, ” imbuhnya.(bla)