Foto bersama usai acara Focus Group Disscussion (FGD) di Ballroom Hotel Pacific Palace, Kamis (8/4). Foto BatamLagi.com

BATAM (BaLa) – Wakil Gubernur Lemhannas RI, Marsekal Madya TNI, Wieko Syofyan, mengatakan, media sosial (Medsos) telah menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan masyarakat.

“Berdasarkan penelitian setiap hari rata-rata setiap orang menghabiskan waktu 135 menit untuk berselancar di berbagai media sosial seperti facebook, youtube, twitter, instagram, whatsapp dan lainnya,” ujar Wieko Syofyan di acara Focus Group Disscussion (FGD) di Ballroom Hotel Pacific Palace, Kamis (8/4), bertema “Optimalisasi peran media sosial guna mengembangkan wawasan kebangsaan”.

Wieko Syofyan mengatakan, media sosial saat ini sudah menjadi candu bagi masyarakat. Katanya, hampir tidak ada warga perkotaan yang tidak mengakses media sosial. Karakteristik media sosial yang interaktif, menarik, cepat dan mudah diakses menjadikan media sosial mempunyai kekuatan besar dalam membentuk pola kehidupan masyarakat.

“Media sosial mampu menyebarkan pesan secara revolusioner. Efek yang ditimbulkan dari pesan tersebut dapat menjadi sedemikian luas, sehingga mempengaruhi sikap dan perilaku kolektif masyarakat,” ujarnya.

Lanjutnya, perkembangan media sosial sejak awal tahun 2000-an turut menandai dimulainya era demokratisasi informasi digital. Seiring dengan terbukanya arus informasi, muncul berbagai ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tantangan terberat adalah ketika Pancasila sebagai ideologi negara dan falsafah bangsa tidak lagi menjadi wacana dan pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Pancasila merupakan ideologi hidup di tengah masyarakat yang harus selalu dijaga. Karena keutuhan Indonesia sebagai negara kesatuan tergantung dari bagaimana warga negara menjaga nilai-nilai pancasila sebagai falsafah bangsa,” imbuhnya.

 

Dijelaskan juga, salah satu cara menjaga nilai-nilai pancasila adalah dengan memberikan pengetahuan wawasan kebangsaan yang lebih luas sehingga, masyarakat mendapat pemahaman yang lebih mendalam mengenai visi besar dari sebuah negara, serta memiliki landasan yang kokoh agar tidak jatuh kepada nilai-nilai yang merugikan bangsa.

Brigjen Pol. Joko Rudi E, S.H., S.ik, M.Si.

Perkembangan wawasan kebangsaan diharapkan semakin pesat ketika dapat memanfaatkan segala sarana dan sumber daya yang ada, termasuk media sosial yang saat ini sedang digemari masyarakat.

Nilai-nilai wawasan kebangsaan dapat diinformasikan secara luas kepada masyarakat dengan menggunakan media sosial, sehingga dapat mendorong masyarakat untuk mengantisipasi nilai-nilai yang merugikan bangsa dan mengadopsi sikap mental yang mendukung terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa.

“Namun kondisi yang kita hadapi saat ini, media sosial belum banyak digunakan untuk mensosialisasikan materi wawasan kebangsaan,” ucapnya.

Katanya, proporsi konten yang berisi tema wawasan kebangsaan masih jauh lebih kecil dibandingkan konten-konten lain yang bersifat hiburan, yang banyak di antaranya kurang bermanfaat bahkan dapat memberikan dampak negatif.

Media sosial memiliki peran strategis untuk menyampaikan informasi mengenai berbagai persoalan, oleh karena itu penggunaan media sosial untuk mensosialisasikan pengetahuan mengenai wawasan kebangsaan perlu diusahakan agar lebih optimal.

Ia berharap, diskusi ini akan mendapat masukan suatu konsep pemikiran tentang bagaimana optimalisasi penggunaan media sosial untuk menyebarluaskan pemahaman wawasan kebangsaan secara lebih menarik dan informatif, sehingga masyarakat mendapatkan landasan yang kuat dalam berbangsa dan bernegara.

“Dari permasalahan tersebut Lemhannas RI memandang perlu untuk melakukan kajian jangka panjang tentang “optimalisasi peran media sosial guna mengembangkan wawasan kebangsaan”,” pungkasnya.

Di tempat yang sama, Brigjen Pol. Joko Rudi E, S.H., S.ik, M.Si, Direktur, Pengkajian Sosial Budaya Demografi, Debidjianstrat Lemhanas RI menambahkan, kegiatan FGD yang dilakukan merupakan kajian strategis jangka panjang Lemhanas RI yang fokus pada direktorat kajian budaya dan sosial mengenai upaya pemerintah mengantisipasi dampak media sosial.

“Jika tidak dikelola dengan baik akan berakibat gangguan wawasan kebangsaan pada generasi milenial yang berdampak pada integral bangsa Indonesia,” tegasnya.(srd)