Nyamuk aedes aegypti. Foto ist

BATAM – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) marak di Kota Batam. Di bulan Februari 2021 ini sudah ada 145 kasus. Tiga kecamatan memiliki kasus cukup tinggi.

“Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yakni 113 kasus,” ujar Didi Kusmarjadi, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, kepada wartawan, Kamis (25/2).

Dikatakan Didi, kasus DBD tersebut tersebar hampir di seluruh kecamatan di Kota Batam. Ia merinci, Januari 2021 ada 87 kasus dan Februari ada 58 kasus.

Data di Dinkes Batam, jumlah kasus DBD terus meningkat setiap tahunnya. Di tahun 2017 ada 593 kasus, naik menjadi 639 kasus DBD di tahun 2018. Kemudian naik menjadi 728 kasus di tahun 2019, dan naik lagi 746 kasus di tahun 2020.

Bila melihat data penyebaran di tahun 2020, Kecamatan Batam Kota menjadi daerah penyumbang DBD tertinggi yakni 66 kasus. Disusul Kecamatan Batuaji 49 kasus dan Kecamatan Sagulung dengan 36 kasus.

“Upaya penanganan DBD salah satunya rutin melakukan fogging untuk memberantas sarang nyamuk,” kata Didi.

Tempat yang biasa didiami nyamuk aedes aegypti yakni, air yang tidak berhubungan langsung dengan tanah, tempat penampungan air, air jebakan semut (kaki meja), air pembuangan kulkas, tempat minum burung yang jarang diganti, pot bunga, dispenser air minum dan barang bekas sekitar rumah.

Ia menghimbau masyarakat untuk memastikan rumah tidak ada jentik nyamuk. Sebab satu jentik betina dalam 12 sampai 14 hari akan berubah jadi nyamuk dewasa.

“Satu nyamuk betina dewasa sekali bertelur bisa mencapai 100-150 butir telur,” imbuhnya.(*/bala)