Jajaran Polda Kepri saat mengekspos kasus penipuan di Mapolda Kepri, Selasa (2/2). Foto Batamlagi.com/ist

BATAM – RW, seorang pelaku kasus penipuan dibekuk jajaran Polda Kepri. Untuk memuluskan aksinya, tersangka mengimingi mobil lelangan mengatasnamakan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL). Belakangan diketahui, pelaku merupakan Napi di Lapas yang berada di Sumatera Utara (Sumut).

Wadir Reskrimsus Polda Kepri AKBP Nugroho Agus Setiawan, Selasa (2/2) di Polda Kepri, tersangka RW melakukan serangkaian tindak pidana dari dalam salah satu lapas di Sumatera Utara (Sumut).

Dikatakan Nugroho, kasus itu bermula pada Senin (3/8/2020) sekira pukul 15.00 WIB, korban bernama Agus menerima pesan whatsapp dari tersangka RW dengan nomor telepon 082272992xxx. RW mengaku sebagai teman korban semasa di Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Kepada korban, tersangka menawarkan untuk menjual berbagai macam mobil lelang dari KPKNL dengan harga di bawah pasaran.

Tergiur dengan tawaran tersebut dan menganggap teman, korban tertarik membeli mobil Toyota Rush tahun 2019 seharga Rp 170 juta ditambah diskon 10 persen.

Lalu tersangka meminta korban untuk mengikuti proses lelang, dan meminta mengirimkan sejumlah uang sebesar Rp 163 juta dengan 4 kali tahap pengiriman melalui mobile banking Mandiri.

Usai pembayaran tersebut, korban menerima foto STNK mobil Toyota Rush dari tersangka. Tapi, setelah dicek secara online, ternyata STNK kendaraan tersebut tak terdaftar atau fiktif. Merasa tertipu, korban melapor ke polisi.

Mendapat laporan, tim dari Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Kepri melakukan penyelidikan dan penyidikan.

Dari hasil penyelidikan diketahui tersangka melakukan serangkaian tindak pidana tersebut dari dalam salah satu lapas di Sumut.

Barang bukti yang diamankan dari tersangka RW adalah 3 handphone berbagai merk, dan 2 kartu Sim Card Indosat Ooredo.

Sedangkan barang bukti yang diamankan dari korban adalah 1 handphone merk Vivo, 1 sim card Telkomsel, 1 micro SD Card, 1 akun Facebook korban, 1 buku tabungan Bank Mandiri, 1 kartu ATM Bank Mandiri, 1 kartu ATM Bank Sumut dan 1 handphone merk Samsung.

Tersangka dijerat Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), pasal 45a ayat (1) jo Pasal 28 ayat (1) dengan pidana penjara paling lama 6 tahun atau denda paling banyak Rp 1 miliar atau pasal 51 ayat (2) jo pasal 36 dengan pidana penjara paling kama 12 tahun atau denda paling banyak Rp 12 miliar.

Diduga tersangka beraksi tidak sendiri, dan sudah beberapa kali melakukan penipuan dari mulai Rp 3 juta hingga ratusan juta.

“Indikasi jaringan, tapi masih kita dalami, ada beberapa yang menjadi korban, tapi ini yang paling besar kerugiannya,” papar Nugroho.(bala)