Limbah minyak hitam menyelimuti Perairan Pulau Air dan Pulau Labu, Dapur 12, Kecamatan Sagulung, Kota Batam. Foto Batamlagi.com/ist

BATAM – Limbah minyak hitam menyelimuti Perairan Pulau Air dan Pulau Labu, Dapur 12, Kecamatan Sagulung, Kota Batam. Meski hampir sepekan, belum ada pihak terkait melakukan inspeksi. Warga pun mulai terserang penyakit.

“Anak-anak masih diungsikan ke Dapur 12, karena mereka muntah-muntah dan batuk akibat bau minyak yang menyengat ini,” ujar Ahmad, Koordinator Nelayan Pulau Air dan Pulau Labu, Minggu (31/1).

Dikatakan Ahmad, diduga kuat minyak hitam ini berasal dari salah satu kapal yang sedang naik dok di galangan kapal yang ada di sekitar lokasi.

Akibat dari limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) itu, warga mengalami gangguan kesehatan karena terhirup bau limbah tersebut.

Selain gangguan kesehatan, kata Ahmad, nelayan sekitar Pulau Air dan Labu terpaksa kehilangan mata pencarian. Sebab air laut tempat mereka mencari ikan sudah sangat kotor dan berubah warna menjadi hitam.

“Tak ada lagi sumber pendapatna kami. Ekosistem laut terganggu karena tumpahan minyak kotor dari kapal yang sedang dok itu,” jelasnya lagi.

Untuk mengurangi dampak yang lebih besar lagi, warga sekitar sudah membersihkan tumpahan minyak. Tapi upaya warga kurang efektif, karena pembersihan dilakukan secara manual dan hanya di sekitar tempat tinggal warga saja.

“Sementara di perairan lain masih bertebaran limbah. Jadi yang bersih hanya di sekitar rumah saja, bahkan lambat laun tumpahan minyak akan kembali menepi,” keluhnya.

Karena sudah meresahkan, warga pun sudah melaporkan hal ini ke Dinas Lingkungan Hidup dan juga ke pihak galangan kapal. Namun sampai saat ini, belum ada tindakan lebih lanjut dari pihak yang bersangkutan.

“Untuk menuntaskan persoalan limbah, masyarakat berencana mengadu ke DPRD kota Batam, agar segera memanggil pihak terkait dan mengatasi limbah tersebut,” tutup Ahmad.

Ketua RT 02/RW 01 Pulau Air, Amri menjelaskan, mulanya dari informasi yang disampaikan warga, limbah minyak hitam ini muncul tiba-tiba pada Senin (25/1) malam lalu.

Pagi harinya, saat warga mengecek, sudah banyak tumpahan minyak.

“Warga akhirnya menelusuri sumber minyak tersebut dan mengarah ke lokasi galangan kapal (menyebut nama perusahaan),” kata Amri.

Menurut Amri, ada 130 Kepala Keluarga (KK) di Pulau Air, semuanya terkena dampak tumbahan minyak. Ia berharap agar masalah ini segera ditangani dengan serius karena menyangkut kenyamanan orang banyak. Akibat limbah minyak ini, nelayan tak bisa melaut lagi.

“Padahal sekarang lagi sibuk-sibuknya mencari ikan Dingkis buat Imlek,” ucapnya.(bala)