Rokok tanpa pita cukai yang dipajang di salah satu toko di Batam. Foto Batamlagi.com.

BATAM – Peredaran rokok ilegal tanpa pita cukai marak di Batam. Negara berpotensi dirugikan. Padahal, sejak tahun 2019 Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) merekomendasikan harus memakai pita cukai di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Batam, Bintan, Karimun, dan Pinang.

Pantauan di lapangan, Sabtu (30/1), distribusi rokok tanpa pita cukai cukup masif, dan sepertinya tidak tersentuh hukum. Di warung-warung klontong di setiap sudut kota, rokok tanpa cukai ini diperdagangkan secara terang-terangan.

Harganya pun sangat murah daripada rokok yang memakai pita cukai atau resmi. Karena harganya yang sangat murah berkisar Rp 7 ribuan hingga Rp 8 ribuan per bungkus, rokok tersebut laris manis.

Sangat disayangkan, hingga kini rokok ilegal itu masih beredar luas. Padahal pemerintah telah menghapus pembebasan barang kena cukai di KPBPB Batam, Bintan, Karimun, dan Pinang sejak Sabtu (1/6/2019). Maka sejak itu peredaran rokok dan minuman beralkohol di kawasan tersebut resmi memakai pita cukai.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, beberapa waktu lalu menerangkan, pencabutan fasilitas cukai di KPBPB Batam, Bintan, Karimun, dan Pinang, sebenarnya sudah mulai berlaku setelah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kemenkeu menerbitkan nota dinas nomor ND-466/BC/2019 pada 17 Mei 2019.

Namun, pemerintah membutuhkan proses sekitar 10 hari hingga dua pekan untuk sosialisasi dan benar-benar menghentikan penerbitan dokumen bebas cukai di kawasan perdagangan bebas Batam (CK-FTZ) tersebut.

“Sehingga nanti seluruh barang kena cukai yang beredar di Batam itu resmi menggunakan pita cukai mulai 1 Juni 2019,” tegasnya, waktu itu.

Dijelaskan, keputusan penghapusan fasilitas pembebasan barang kena cukai di KPBPB Batam, Bintan, Karimun, dan Pinang dilakukan pemerintah sebagai tindaklanjut atas rekomendasi KPK.

Komisi anti rasuah di Tanah Air itu menilai bahwa, terdapat penyalahgunaan fasilitas pembebasan barang kena cukai di sana, terutama untuk produk rokok.

“Pasalnya didapati peredaran rokok tanpa cukai bocor keluar dari kawasan itu dan ditemukan di sejumlah daerah di wilayah Sumatera bagian timur,” pungkasnya.(*/red)