Pelaku pencabulan anak dibawah umur di kantor polisi. Foto Batamlagi.com/ist

BATAM – Pelaku pencabulan terhadap anak dibawah umur berinisial RS dibekuk polisi, Selasa (19/1). Dengan iming-iming dijadikan foto model, 10 korban berhasil dicabuli pelaku di hotel.

Direktur Reskrimum Polda Kepri, Kombes Pol Arie Dharmanto mengatakan, sudah 10 orang anak dibawah umur menjadi korbannya.

Dalam kasus ini, kata Arie, pihaknya akan terus melakukan pengembangan. Karena tidak menutup kemungkinan korbannya lebih dari 10 orang. Apalagi pelaku saat diperiksa mengaku banyak lupa.

“Saat diperiksa pelaku ini mengatakan banyak lupa dan yang diingat hanya 10 nama korban. Dari para korban-korbannya tersebut dua orang di antaranya sudah hamil,” ujar Arie yang didampingi Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol Harry Goldenhardt, Selasa.

Dijelaskan, tersangka melakukan tindak kejahatannya itu di 2 lokasi hotel di Pelita, Kota Batam pada September 2020. Modusnya, pelaku mengiming-imingi korban dijadikan foto model.

“Dengan modus yang dilakukan tersangka berprofesi sebagai fotografer melakukan bujuk rayu dan menawarkan korban sebagai model foto sehingga para korban menuruti keinginan tersangka,” papar Arie.

Dari kejahatan yang dilakukan oleh tersangka ini, berhasil diamankan barang bukti 1 telepon seluler yang digunakan tersangka untuk chating dengan para korbannya, 1 kamera, 1 helai baju warna abu-abu, 1 helai celana panjang warna biru, 1 helai celana dalam warna ungu, 1 helai Bra warna hitam, 1 helai baju warna hitam motif kotak-kotak dan 1 helai celana panjang warna biru.

Masih kata Arie, Subdit IV Ditreskrimum Polda Kepri juga melakukan pemeriksaan terhadap para korban dan saksi.

“Tim terus melakukan pendalaman serta pengembangan terhadap dugaan adanya korban lainnya, serta melakukan koordinasi dengan P2TP2A Provinsi Kepri sebagai pendampingan kepada korban,” terang Arie.

Arie menegaskan, dalam penegakan hukum terhadap perlindungan anak ini akan menerapkan undang-undang baru, yang sudah ditandatangani oleh Presiden RI yang salah satunya di dalam ayat tersebut adalah pemberian hukuman kebiri kimia yang dilakukan sesuai dengan putusan hakim di pengadilan,” tegas Arie.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 81 Ayat 2 dan Ayat 5 Undang-Undang Nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan Perpu nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun serta denda paling banyak Rp 5 juta.(bala)