Tumpukan rokok yang diamankan Bea Cukai berjumlah lebih dari 7,2 juta batang dengan potensi kerugian negara sebesar Rp 7,6 miliar. Foto: ist

JAKARTA – Haji Permata atau H Jumhan bin Selo diduga meninggal ditembak petugas Bea Cukai di Tembilan, Riau, Jumat (15/1). Pihak Bea Cukai membenarkan terkait insiden tersebut.

Dikatakan, Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga, Syarif Hidayat, dalam rilisnya, peristiwa itu bermula saat Satgas patroli laut Bea Cukai mendapat informasi intelijen terkait penyelundupan rokok.

Setelah diselidiki, ternyata ada pergerakan empat high speed craft (HSC) yang beriringan dan cocok dengan informasi intelijen yang diterimanya. Empat kapal HSC itu bermesin 6 x 250 PK tanpa nama. Dan satu kapal bermuatan banyak orang di Perairan Pulau Buluh, Provinsi Riau.

Kemudian petugas membuntutinya dari perairan Pulau Medang Lingga. Lalu, berupaya menghentikan laju HSC. Namun petugas tak berhasil melakukan pencegatan, karena mereka menggunakan mesin berkapasitas di atas kelaziman.

Dijelaskan, sekitar pukul 09.30 WIB, kapal patroli Bea Cukai kembali mengidentifikasi keberadaan HSC yang membawa rokok ilegal di Perairan Sungai Bela, Indragiri Hilir dari arah Kuala Lajau.

Setelah meyakini, petugas memerintahkan HSC tersebut untuk berhenti, namun tidak dipatuhi.

“Bahkan berusaha untuk menabrak kapal patroli petugas,” Syarif Hidayat.

Mendapati keempat HSC tersebut melakukan perlawanan, petugas Bea Cukai memberikan peringatan melalui sirine dan perintah lisan melalui pengeras suara, namun HSC tersebut tidak memperdulikan.

Kapal BC 10009 terus mengejar HSC yang masuk ke arah Sungai Belah walaupun HSC itu melakukan manuver berbahaya.

Meski HSC tersebut berupaya menabrak, petugas di kapal BC 10009 tetap mengejarnya, hingga akhirnya anak buah kapal satu dari empat HSC tersebut itu kabur dengan cara melompat ke air.

Setelah dilakukan pemeriksaan, didapati di dalam HSC itu ada sejumlah tumpukan karton berisi rokok ilegal yang ditutupi terpal.

Meski berhasil mengamankan barang yang diduga ilegal itu. Para penyelundup terus berupaya melakukan perlawanan.

Sekitar pukul 09.40 WIB, dua kapal HSC lainnya yang sebelumnya sudah kabur kembali ke arah HSC yang tengah diperiksa petugas Bea Cukai.

“Jadi jelas ada niatan untuk merebut kembali HSC dan rokok selundupan yang sudah dikuasai Bea Cukai,” tegas Syarif.

Lalu, kapal BC 10009 dibantu kapal BC 15040 dan BC 15041 mencoba menghalau kedua HSC yang kembali berupaya merebut HSC yang tengah diperiksa Bea Cukai.

Namun tindakan melawan hukum justru terus dilakukan para kelompok penyelundup dengan mengerahkan belasan orang menggunakan kapal pancung, yang sengaja disiapkan untuk melindungi empat HSC tersebut.

Masih kata Syarif, mereka melempari kapal BC 10009, BC 15040, BC 15041, dan HSC yang dikuasai Bea Cukai dengan bom molotov, mercon, serta kembang api. Tembakan peringatan beberapa kali dilakukan Satgas patroli laut Bea Cukai.

Peringatan itu tidak dihiraukan, justru massa yang berjumlah belasan orang itu malah secara brutal menyerang petugas dengan senjata tajam, sambil berupaya merangsek masuk ke HSC yang telah dikuasai Bea Cukai yang hanya dikawal oleh empat orang petugas.

Pada satu kesempatan, kelompok penyelundup yang menyerang tersebut berhasil menyandarkan kapal pancung mereka ke HSC, yang dikuasai petugas, dan menyerang petugas dengan menggunakan senjata tajam dan menembakan mercon ke arah petugas.

“Anggota kami sudah dalam posisi terdesak dan pelaku sudah menyerang dengan mengayunkan senjata tajamnya ke badan petugas. Dalam keadaan terdesak dan keselamatan jiwanya terancam maka petugas melakukan pembelaan diri dan terpaksa melakukan tindakan tegas terukur terhadap pelaku yang menyerang petugas Bea Cukai,” ujar Syarif.

Setelah itu, penyerang sempat menjauhkan kapalnya dari kapal HSC yang dikuasai petugas bea cukai. Namun, kapal penyerang tersebut berusaha terus mengejar dan mencoba menyandarkan kapal pancungnya untuk merebut kembali.

Akhirnya kapal tersebut berhenti berusaha mendekat, setelah petugas yang di atas HSC memberikan tembakan peringatan lanjutan ke arah atas, dan bantuan dari dua kapal patroli Bea Cukai lainnya.

Menurut Syarif, setelah situasi lebih kondusif, Satgas patroli laut bea cukai berupaya mencari dan menyelamatkan awak kapal HSC yang sebelumnya terjun ke air, namun tidak mendapatkan hasil.

Satgas patroli laut Bea Cukai kemudian membawa dua HSC tanpa awak berisi rokok ilegal yang jumlahnya lebih dari 7,2 juta batang dengan potensi kerugian negara sebesar Rp 7,6 miliar ke Tanjung Balai Karimun.

Yang mengejutkan, dalam pencacahan juga ditemukan dua karung berisi batu dan kayu yang sepertinya disiapkan untuk melakukan perlawanan atau penyerangan kepada petugas.

Atas peristiwa tersebut, tambah Syarif, pihaknya bersama dengan Aparat Penegak Hukum (APH) terkait akan melakukan pendalaman dan pengembangan kasus dari hasil tangkapan yang berhasil disita tersebut.

“Termasuk asal muasal rokok ilegal, pelaku-pelaku yang terlibat, dan bahkan pemilik atau penyedia HSC yang digunakan untuk menyelundup,” tegasnya.

Dari catatan Bea dan Cukai, modus penyelundupan rokok dan minuman keras dengan menggunakan HSC ini telah berulangkali dilakukan oleh kelompok tersebut.

Di wilayah Kepri saja, kata Syarif, total tangkapan rokok dan minuman keras di tahun 2019 sebanyak 31 tangkapan yang terdiri dari 12 HSC, dan 19 Kapal nonHSC.

Sedangkan pada tahun 2020 sebanyak 20 tangkapan yang terdiri dari 8 HSC dan 12 Kapal nonHSC. Total kerugian negara yang berhasil diselamatkan oleh patroli bea cukai lebih dari Rp 214,35 miliar.

“Sebagian dari tangkapan-tangkapan itu merupakan tangkapan dari kelompok pelaku penyerangan yang memang dikenal sebagai penyelundup yang kerap kali menyerang petugas,” Kata Syarif.

Bahkan pada tahun 2014 kelompok ini pernah melakukan penyerangan ke kantor Bea Cukai Tanjung Balai Karimun
karena barang selundupannya ditangkap oleh petugas.

“Pengadilan kemudian memutuskan telah terjadi pelanggaran pidana atas penyerangan tersebut,” paparnya.

Ia menegaskan, upaya penindakan kali ini merupakan bukti keseriusan dan kegigihan pemerintah khususnya Bea Cukai yang bekerja sama dengan TNI, Polri, dan Aparat Penegak Hukum yang lain dalam memberantas barangbarang ilegal dan menutup pintu masuk para penyelundup ke wilayah Indonesia.

“Tidak hanya untuk melindungi masyarakat dari potensi bahaya barang-barang ilegal yang tidak memenuhi ketentuan perundang-undangan, melainkan upaya nyata Bea Cukai dalam mengamankan penerimaan negara serta menciptakan persaingan yang sehat dan keadilan bagi para pelaku usaha yang taat pada ketentuan perundang-undangan,” tutupnya.(bala)