Sekretaris Daerah Provinsi Kepri, H TS Arif Fadilah. Foto: ist

PINANG (BATAMLAGI.COM) – Sekretaris Daerah Provinsi Kepri, H TS Arif Fadilah mengatakan, wilayah Provinsi Kepri berbatasan dengan negara-negara tetangga seperti Singapura, Kamboja, Malaysia dan Vietnam. Dengan situasi Covid-19 ini, dampaknya cukup luar biasa.

Meskipun wisata Kepri berada di peringkat 3 di Indonesia, namun dirasakan sangat menurun. Bahkan sektor industri juga mengalami penurunan karena bahan baku dari luar negeri tidak bisa masuk.

Kondisi ini disampaikan Arif saat memaparkan secara virtual webinar ‘Solusi Pembiayaan dan Pemasaran Produk Perikanan di Tengah Pandemi’ dengan tema ‘Kebijakan Pemerintah Daerah Dalam Mendukung Pengembangan Koperasi dan UMKM Sektor Perikanan’ di ruang rapat lantai 3 Kantor Gubernur Dompak, Tanjungpinang, Selasa (6/10).

Di seluruh Provinsi Kepri papar Arif tercatat sebanyak 2.132 koperasi, koperasi nelayan berjumlah 262 dan UMKM berjumlah 160.290.

“Para pelaku usaha di bidang Kelautan dan Perikanan sangat memerlukan kemudahan akses pembiayaan. Selain itu masalah lainnya adalah tingginya biaya logistik yang berdampak kepada tingginya harga jual dari pulau terluar, rendahnya pemanfaatan teknologi bagi koperasi dan UMKM dalam pengelolaan bahan baku dan rendahnya kualitas kemasan produk koperasi dan UMKM. Apa yang menjadi kendala para pengusaha di bidang kelautan dan perikanan itulah yang ingin terus kita dongkrak agar maju,” ujarnya.

Arif juga menjelaskan, sesuai laporan bupati dan walikota, para nelayan tangkap tidak punya akses pemasaran, ditambah lagi daya beli masyarakat sekarang kurang.

‚ÄúPasar lokal, restoran dan hotel di Kepri yang dulunya sangat eksis di dunia pariwisata, sekarang tampak kosong karena semuanya terbatas,” katanya.

Dampak dari Covid-19 bagi usaha perikanan dan budidaya ikan laut di Kepulauan Riau adalah menurunnya harga jual secara drastis.

Adapun hasil budidaya ikan, seperti kerapu biasanya dijual ke Malaysia, Singapura dan Hongkong. Untuk ikan hidup sebelum Covid-19 ada yang diekspor, namun semenjak corona tidak ada lagi. Melainkan hanya dijual di pasar lokal dengan kondisi daya serap yang tidak maksimal.

“Harga kerapu sebelum pandemi berkisar Rp 120 ribu per kilo, setelah Covid-19 ini menjadi hanya Rp 70 ribu bahkan Rp 50 ribu per kilo. Kalo ikan kakap, bawal bintang masih di harga Rp 70 ribu per kilo,” imbuh Arif.

Di akhir pemaparannya, Arif juga menyampaikan jika nilai produksi rata-rata Rp 60 ribu perkilo gram, dan sekarang sangat menurun. Sedangkan produksi ekspor Malaysia dan Singapura tidak ada lagi. Hanya di pasar lokal dan pasar modern di Kabupaten dan Kota.

Olahan hasil perikanan sebelum Covid-19 bisa sampai 1.000.000 ton lebih pada tahun 2019, dengan terdampak Covid-19 menjadi hanya 685 ribu ton di tahun 2020.

Sementara itu, Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM Victoria Simanungkalit mengatakan Pemerintah terus berupaya untuk memulih kan UMKM khususnya di komisi perikanan dan menjaga proses hulu hingga hilir dapat berjalan optimal melalui upaya dalam program strategis.

Dan data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan total jumlah nelayan 2,3 juta jiwa dan pembudidaya ikan hampir 4 juta orang, dimana 96 persen nelayan Indonesia masuk dalam kategori nelayan kecil dan tradisional.(*/bl)