Jajaran Ditkrimum Polda Kepri saat mengeksos kasus dugaan tindak pidana perdagangan orang dan kekarantinaan. Foto: Batamlagi.com

BATAM (BATAMLAGI.COM) – Jajaran Ditkrimum Polda Kepri menetapkan J dan E sebagai tersangka dalam kasus pemulangan tiga mayat anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI) dari kapal ikan Fu Yuan Yu 829 berbendera Cina.

Kabid Humas Polda Kepri Kombes Pol Harry Goldenhardt, Jumat (14/8), saat ekspos kasus tersebut mengungkapkan, tim mengamankan 2 tersangka yakni, J direktur PT SMB dan E sebagai manajer di PT SMB.

Dijelaskan Harry, saat proses pemulangan jenazah korban diturunkan dari kapal berbendera asing di Out Port Limited (OPL). Lalu jenazah dibawa boat pancung ke pelabuhan, untuk selanjutnya dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulan.

Jenazah tersebut merupakan ABK berinisial S dan M, warga Bireun Provinsi Aceh, dan D warga Donggala, Sulawesi Tengah.

Dari proses pengiriman jenazah ini, tambahnya, jelas tidak melalui proses sebagaimana mestinya, yaitu tidak melalui proses protokol kesehatan.

“Tentunya dengan kejadian ini menjadi sebuah keprihatinan bersama. Di saat ini masih ada warga negara kita yang menjadi ABK melalui perekrutan yang tidak legal. Ini tentunya menjadi fokus dari Ditreskrimum Polda Kepri untuk mengungkap jaringan Tindak Pidana Perdagangan,” ucap Harry.

Pengungkapan ini bermula pada Selasa (11/8), tim Ditreskrimum Polda Kepri melakukan penyelidikan atas informasi dari masyarakat, terkait adanya pengiriman jenazah Pekerja Migran Indonesia (PMI) melalui perairan di wilayah Kepri.

Lalu, pada Rabu (12/8), Tim berhasil mengamankan pengelola atau manajemen PT SMB di salah satu hotel di Kota Batam.

Dijelaskan Harry, dalam penyidikan diketahui bila PT SMB merupakan pihak yang merekrut dan memberangkatkan 3 orang yang diketahui telah diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang. Para korban ini diberangkatkan pada Oktober 2019 ke Taiwan melalui Singapura.

“Modus Operandi dari kejadian ini sama dengan kejadian sebelumnya yaitu PT SMB melakukan perekrutan dan pengiriman terhadap ketiga korban ini, dan menempatkan para pekerja di kapal pencari ikan berbendera Asing,” papar Harry.

Kemudian pada awal Agustus 2020 pihak keluarga korban diberitahu oleh pihak PT SMB, jika para pekerja tersebut telah meninggal dunia.

Dan pada Senin (10/8) akan dilakukan penyerahan terhadap tiga jenazah di Pelabuhan Batu Ampar yang diantar boat pancung dari kapal ikan asing yang berada di perairan OPL. Selanjutnya ketiga jenazah tersebut dibawa ke salah satu rumah sakit di Kota Batam.

Karena perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 4 jo Pasal 10 Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang dengan ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun dan pidana denda paling banyak Rp 5 miliar jo Pasal 93 Undang-Undang Nomor 6 tahun 2018 tentang kekarantinaan kesehatan jo pasal 181 KUHP.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Kepri, Kombes Arie Dharmanto, mengatakan, warga atau tekong yang menjemput dengan boat pancung tidak tahu mengenai kasus itu. Dan pihaknya tidak menahan warga yang menjemput dengan perahu. Begitu juga dengan sopir ambulan yang mengantar ke rumah sakit, karena tidak masuk dalam persekongkolan jahat.

“Mereka berupaya menolong, juga nggak tahu kalau harus angkut mayat. Kapalnya disewa, tahu-tahunya bawa mayat,” ujar Arie.(bl)