Walikota Batam, Muhammad Rudi. Foto: Batamlagi.com.

BATAM (BATAMLAGI.COM) – Walikota Batam, Muhammad Rudi berencana membuka kembali sekolah pada pertengahan Agustus nanti. Kini, pihaknya sedang menggodok teknis pelaksanaan kegiatan belajar tatap muka tersebut, seperti membatasi jumlah siswa di kelas.

“Beberapa opsi yang bisa dilakukan antara lain dengan membatasi jumlah siswa per kelas. Yakni dari maksimal 40 orang per kelas menjadi 20 orang saja,” ujar Rudi usai pertemuan dengan kepala sekolah di Dataran Engku Putri Batam Centre, Kamis (30/7).

Dikatakannya, konsekuensi hal tersebut adalah jadwal sekolah harus dibagi menjadi dua, pagi dan siang. Atau dibuat satu hari sekolah, satu hari tidak sekolah, secara bergantian.

Menurut Rudi, pihaknya sepakat membuka kembali sekolah. Teknisnya nanti diatur sekolah bersama Kepala Dinas Pendidikan.

“Nanti hasilnya dilaporkan ke saya, lalu saya teruskan ke Forkopimda. Kalau bisa awal Agustus kita rapatnya,” paparnya.

Sedangkan untuk sekolah yang sudah ada 2 shift, kelas pagi dan siang, bisa dilaksanakan dengan memperpendek jam belajar. Misal biasanya 6 jam nanti jadi 3 jam.

“Tak perlu ada jam istirahat. Setelah belajar, pulang. Saya rasa itu tak masalah, yang penting disiplin,” paparnya.

Ia berharap kedisiplinan tak hanya dari anak-anak murid, tapi juga guru dan orang tua. Guru tak boleh terlambat masuk ke kelas yang dapat membuat anak berinteraksi atau bermain ketika menunggu guru hadir.

Kemudian, orang tua juga diminta untuk mengantar dan menjemput anaknya tepat waktu. Jika masuk pukul 07.30, anak jangan diantar dari pukul 06.00. Atau harusnya pulang pukul 11.00, lalu dijemput pukul 11.00 lewat. Jeda waktu seperti ini memungkinkan anak-anak untuk bermain dan berkumpul.

“Kesepakatan ini harus ditandatangani nantinya. Karena saya tak mau sampai ada klaster baru di sekolah,” ucap Rudi.

Persiapannya juga menyangkut pengawasan terhadap anak-anak selama di sekolah. Siswa diminta untuk menggunakan masker dan rajin cuci tangan, di samping menjaga jarak.

Juga dijelaskan, agar kepala sekolah memastikan anak-anak tidak saling bertukar masker. Karena kadang anak-anak ini kan lihat punya temannya bagus, mau juga.

“Maka perlu juga dibentuk tim di sekolah untuk mengawasi anak-anak kita ini dalam menerapkan protokol kesehatan selama berada di lingkungan sekolah,” imbuhnya.

Ia juga menjelaskan, kebijakan ini diambil karena banyak orang tua yang menyampaikan protes dan keluhan padanya. Tak sedikit orang tua yang merasa kesulitan dan terbebani dengan kegiatan belajar di rumah.

Katanya, banyak orang tua protes, yang belajar ibunya. Kedua, biaya makin besar, buat beli pulsa, kuota, dan lain-lain. Bagi yang tak punya Handphone standar, harus beli lagi. Jadi pandemi covid-19 ini makin memberatkan orang tua murid.

“Oleh karena itu meskipun Batam tak hijau, nanti akan kita buka. Tapi sekolah harus disiapkan betul-betul,” ujarnya.(*/bl)