Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Muhadjir Effendy. Foto: ist

BATAM (BATAMLAGI.COM) – Melihat jumlah kasus Covid-19 semakin hari kian meningkat, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI, Muhadjir Effendy, mengajak masyarakat untuk bersiap-siap menghadapi kehidupan normal yang baru (New normal). Bagaimana agar bisa beradaptasi terhadap kebiasaan yang menyesuaikan perilaku virus Corona.

“Yang sebelumnya tidak memakai masker saat ini wajib pakai masker. Yang kebiasaan tak cuci tangan sekarang harus. Makanya terapkan hidup sehat,” pesan Muhadjir Effendy saat meninjau RSKI Galang, Selasa (19/5).

Pada kesempatan itu mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI beserta rombongan juga sempat menyerahkan bantuan sembako dari Presiden RI kepada sejumlah warga di Kelurahan Sijantung, Kecamatan Galang. Theresia, salah satu penerima bantuan menyampaikan terima kasih atas bingkisan tersebut.

“Terima kasih Pak atas bantuannya. Benar-benar bermanfaat di saat-saat seperti ini,” ucapnya.

Dikutip dari berbagai sumber, ada indikator bagi daerah yang ingin menjalankan hidup New Normal di tengah pandemi virus Covid-19. Indikator ini mengacu pada ketentuan kriteria atau indikator World Health Organization atau WHO.

Indikator pertama adalah angka reproduksi dasar atau Basic Reproductive Number (R0) sebuah penyakit. Syaratnya, R0 Covid-19 di sebuah negara harus berada di bawah angka 1. Sementara, saat ini rata-rata nasional R0 Indonesia diperkirakan berada di angka 2,5. Artinya, satu orang bisa menularkan penyakit ke 2-3 orang.

Indikator kedua, sistem kesehatan. Dalam hal ini, pemerintah harus memastikan kemampuan dan kapasitas sistem kesehatan dalam merespon pelayanan Covid-19. Fasilitas kesehatan yang tersedia bagi pasien Covid-19 minimal 60 persen dari total fasilitas kesehatan yang ada. Misalnya, rumah sakit punya 100 tempat tidur, maka maksimum 60 persen untuk pasien Covid-19. Jumlah pasien juga harus di bawah 60.

Indikator ketiga adalah surveilans, yakni proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data secara sistemik dan terus menerus untuk dapat mengambil tindakan. Dalam hal ini, pemerintah akan terus mengukur potensi penyebaran dengan melakukan tes masif. Saat ini uji spesimen di Indonesia masih termasuk yang terendah di dunia. Tes yang dilakukan baru 743/1 juta penduduk. Diharapkan bulan depan bisa 1.838/1 juta penduduk.

Tiga indikator inilah, bisa menempatkan sebuah daerah itu siap atau tidak melakukan pelonggaran PSSB menuju hidup New Normal. WHO mensyaratkan R0-nya setidaknya berada di bawah angka 1 dalam waktu 14 hari terakhir, maka bisa siap untuk melakukan penyesuaian atau pengurangan PSBB.

Saat ini pemerintah tengah menyiapkan protokol masyarakat produktif dan aman Covid-19. Protokol ini dibuat untuk penyesuaian pembatasan sosial menuju hidup New Normal berdamai dengan Covid-19. Protokol ini nantinya akan diberlakukan untuk daerah-daerah yang dinilai sudah bisa menerapkan hidup new normal berdamai dengan Covid-19.(*/bl)