Tersangka Ju saat diamankan polisi. Foto: Batamlagi.com

BATAM (BATAMLAGI.COM) – Jajaran Subdit IV Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Kepri mengamankan pria berinisial Ju (48). Pria ini diduga melarikan keponakannya sendiri berinisial BM (8).

“Si anak diiming-imingi sejumlah uang dan jam tangan bermerek,” ujar Wakil Direktur Reskrimum Polda Kepri, AKBP Ari Darmanto saat ekspos di Mapolda Kepri.

Dikatakan Ari, peristiwa ini bermula pada Sabtu (28/11) lalu, hari itu Ju mengajak BM jalan dan makan di food court dengan persetujuan ibu BM, Munirah (47), istri almarhum Rudi, abang tersangka Ju.

Walau anaknya pergi dengan Ju, Munirah tetap memantau anaknya dengan melakukan komunikasi dengan Ju melalui WhatsApp (WA). Satu jam masih ada kabar. Namun beberapa jam setelah itu tak ada kabar. Handphone tersangka mati. Risaulah sang ibu. Keesokan harinya, Munirah melapor ke Polda Kepri.

Ju dilaporkan karena telah membawa anak yang belum cukup umur. Ju diketahui bekerja di salah satu perusahaan swasta di Batam menjabat sebagai HRD.

“Setelah laporan diterima, kami lakukan pencarian. Mulai dari setiap pusat perbelanjaan, bandara, pelabuhan,” papar Ari.

Bahkan, pihaknya sudah melakukan upaya negosiasi karena awalnya dianggap urusan keluarga. Dan penyidik mengecek nomor handphone tersangka.

“Kami dapat alamat tersangka, tersangka sedang di rumahnya, Sukajadi. Saat diamankan tidak ada si anak,” katanya.

Kemudian untuk kepentingan penyelidikan, Ju diinterogasi. Tapi masih tetap tak mengaku, tidak kooperatif.

Lalu, pihaknya mengecek seluruh stasiun, terminal, dan bandara, koordinasi terkait manifest, CCTv. Dan pada 30 November itu ada kelihatan CCTv dimana tersangka membawa korban sudah dalam penguasaan dan sampai ke Medan, dan dibawa ke Pematang Siantar. Dan dititipkan ke rumah orang tua tersangka atau nenek korban.

Setelah koordinasi pihaknya melakukan penyelamatan, lalu korban dipertemukan kembali dengan ibunya.

“Alasannya, kita duga ada motif si anak ini satu-satunya dari hubungan almarhum (Rudi S.P),” kata Ari. Kemudian, ada beberapa dokumen yang meyakinkan kalau tersangka punya kuasa akan keponakannya itu.

“Tersangka bahkan mau membuat akta kelahiran baru. Pelaku dijerat Pasal 330 KUHP ayat 1 dan 2 ancaman 15 tahun penjara,” imbuhnya.(bl)