adalah Sun Ang dan Ang Ho terpidana kasus pembunuhan usai sidang PK di PN Batam, Kamis (28/11). Foto: Batamlagi.com

BATAM (BATAMLAGI.COM) – Tahun 2010 lalu, Kota Medan sempat dihebohkan oleh kasus penembakan yang membuat tewasnya suami istri Kho Wie To dan Dora Halim. Atas kasus tersebut, dua orang menjadi pesakitan. Dia adalah Sun Ang dan Ang Ho. Oleh Pengadilan Negeri (PN) Sumatera Utara, keduanya divonis seumur hidup.

Tujuh tahun keduanya dikurung di Lapas Tanjung Gusta Medan. Dan dua tahun belakangan ini pindah ke Lapas Kelas II A Barelang, Batam. 9 tahun di dalam kurungan Sun Ang dan Ang Ho terus mencari keadilan.

“Saya ke sini hanya mencari keadilan,” ujar Sun Ang ditemui usai sidang Peninjauan Kembali (PK) yang diajukannya di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Kamis (28/11).

“Yang masalah pembunuhan ini kami nggak tau sama sekali,” timpal pria paruh baya yang matanya nampak berkaca-kaca itu. Sun Ang mengaku, dijadikan sebagai ‘tumbal’ dalam kasus penembakan tersebut. Sun Ang mengaku tidak melakukan hal seperti yang telah disangkakan kepadanya.

“Jadi hari itu saya jemput empat orang saja. Jadi Acui jemput saya. Saya kan sudah sampai Rantau Parapat. Dibilang ada saudaranya mau numpang sembahyang. Saya dari Rantau Parapat balik lagi ke Kisaran jemput yang empat orang itu,” ceritanya.

“Kebetulan Ang Ho (terpidana) di Medan, saya suruh bantu. Ang Ho tidak tau jalannya. Kebetulan dia datang dari Jeumado. Ang Ho nagih uang di Jeumado itu. Terus pagi Ang Ho mau ke Tanjung Balai Asahan. Saya bilang sekarang aja antar orang itu. Makanya saya jemput empat orang itu,” kenangnya.

“Habis itu saya pulang ke Bagan Semayang Cemyen. Paginya sampai di Senabui, tanggal 30 bulan itu balik Semayang dan saya balik lagi ke Pekanbaru lalu ke Jakarta. Kemudian balik lagi ke Medan ada kapal nya di Lantamal. Saya turun lagi ke Medan. Kalau masalah pembunuhan saya sama sekali tidak tahu,” tegasnya.

Sun Ang mengaku akan terus mencari keadilan agar orang tahu, bahwa mereka hanya korban. Terkait utang piutang antara dirinya dengan korban sebesar Rp 100 juta yang juga dikaitkan, Sun Ang menegaskan, utang itu sudah dilunasi jauh sebelum pembunuhan terjadi.

Penasehat hukumnya, FX Denny S Aliandu mengatakan, pihaknya adalah lawyer (penasehat hukum) yang kesekian. Sudah 7 lawyer yang menangani perkara ini.

“Ada lawyer yang kabur-kaburan. Kasihan bapak ini (terpidana) ditinggal banyak pengacara sebelumnya sampai pada titik mereka tidak percaya pengacara lagi. Itu yang sangat disesalkan,” ujar Denny di PN Batam.

Terkait perkara, Denny mengaku, awalnya berpikir dua terpidana itu adalah sebagai pelaku. Karena 4 orang ini memang ada di mobil. Tetapi, katanya ada yang janggal dalam kasus ini.

“Satu orang yang bernama Acui sampai saat ini tidak pernah ditangkap dan diproses oleh kepolisian,” tegasnya.

Kata Denny, ini tujuannya untuk menerangkan siapa sebenarnya pelaku pembunuhan berencana itu.

“Empat orang pelaku sampai kini tidak tahu dimana dan tidak pernah ditangkap diproses pun tidak. Mereka bersenjata lengkap, kalau berdasarkan yang kita baca di media itu, pelaku datang ke tempat. Mereka dengan pakaian biasa. Masih muda tidak tua,” tambahnya.(bl)