Ilustrasi warga saat bermain gelper di bilangan Nagoya. Foto: Batamlagi.com

Bunga mengaku ekonomi keluarganya semakin hancur. Uang jatah bulanan dari gaji suami sudah tak mencukupi kebutuhan rumah tangganya.

“Bagaimana mau cukup, gaji suami tinggal satu juta (rupiah). Sebagian untuk mencicil motor yang digadaikan,” katanya dengan suara lirih.

Ia juga bercerita, perekonomian rumah tangganya sangat sulit. Untuk biaya makan sehari-hari saja tidak cukup. Apalagi untuk membayar biaya sekolah dua anak dan kebutuhan lainnya, seperti membayar tagihan air dan listrik.

“Rasanya kepala ini mau pecah saja. Kenapa suamiku sudah gelap mata main jackpot di gelper itu,” ucapnya dengan suara terbata-bata.

Karena tak ingin anak-anaknya kelaparan, Bunga yang sehari-hari nya biasanya hanya mengurus rumah tangga harus banting tulang untuk mencari pendapatan tambahan.

“Yang ku pentingkan anak. Akhirnya aku mencari pekerjaan. Biar dapat uang kecil, yang penting kebutuhan dan biaya sekolah anak ada,” imbuhnya.

Walau dibantu mencari uang untuk keluarga, sang suami sepertinya sudah “kesetanan” main di gelper. Gaji bulanan sang istri dipakainya juga untuk modal main jackpot.

“Gaji dia saja tak cukup, malah suamiku pinjam uang hasil gajiku. Katanya pinjam dulu, nanti ku kembalikan,” ucap Bunga menirukan ucapan suaminya.

Ia sebenarnya juga sudah berbicara dari hati ke hati dengan suaminya agar insaf. Dan meninggalkan kebiasaan buruknya itu. Apalagi anak-anak perlu biaya yang tak sedikit untuk sekolahan.

Meski sudah berbagai upaya dilakukan agar suaminya sadar, namun tak kunjung membawa kebaikan untuk keluarganya. Malahan sepertinya semakin runyam.

“Aku pun sampai berpikiran minta cerai dari dia (suami), karena rasanya sudah tidak kuat dengan kelakuannya itu (suka main gelper),” katanya.(bl)