Batam (Batamlagi.com) – Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Kota Batam melakukan pengawasan terhadap obat tradisional (OT) dan suplemen kesehatan (SK). Sejumlah obat tradisional dilarang beriklan.

Kepala BPOM Kota Batam, Yosef Dwi Irwan, Kamis (20/9), mengatakan, pihaknya melakukan pengawasan se-Kepri, bekerjasama dengan Kemkominfo dan KPI untuk pengawasan iklan di media online, televisi dan koran. Pengawasan iklan obat tradisonal dan suplemen kesehatan tidak dapat dipisahkan dari pengawasan keamanan dan mutu produk secara umum.

Saat ini, banyak obat tradisional beredar di pasaran. Dan tidak sedikit masyarakat memilih obat tradisional ketimbang berobat ke rumah sakit. Karena obat tradisional cenderung lebih murah.

“Iklan obat tradisional dan suplemen makanan harus sesuai dengan persetujuan yang telah disetujui BPOM,” ujarnya kepada wartawan.

Dijelaskan Yosef, iklan obat tradisional dan suplemen makanan harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami, dan informasi dalam iklan harus objektif, lengkap dan, tidak menyesatkan. Adapun obat tradisional yang dilarang beriklan, misalnya obat liver dan diabetes.

“Obat tradisional untuk mata, telinga, hidung, penyakit kanker, tuberkolosis, penyakit kelamin, impotensi, tipus, kolera, tekanan darah tinggi, diabetes dan, liver dilarang beriklan,” ucapnya.

BPOM, tambahnya, juga melarang menggunakan klaim berlebihan dalam iklan obat tradisional dan suplemen makanan. Misalnya, klaim jaminan umur panjang, awet muda dan, kecantikan, aman dan tanpa efek samping. Karena ini membuat orang terdorong penggunakan terus menerus.

“Iklan juga tidak boleh menampilkan gambar pahlawan, monumen, lambang kenegaraan dan, unsur diskriminalisasi. Iklan makanan dan minuman tidak boleh mencantumkan klaim apapun,” imbuhnya.

Untuk saat ini, BPOM masih memberikan teguran pada produsen obat tradisional dan suplemen makanan, jika melakukan pelanggaran. “Jika berulang kali melakukan pelanggaran dan tidak mengindahkan imbauan BPOM, sanksinya 1,5 tahun dan denda Rp 1 miliar,” pungkasnya.(bl)