Ilustrasi limbah kain kaus. FotoL int

Blitar (Batamlagi.com) – Bermula dari keisengan, kreasi kain kaus yang dibuat wanita ini bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Seperti yang dilakukan Sulistyowati ini. Warga Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan ini menyulap limbah kain kaus menjadi keset dan sansak tinju.

Sulistyowati yang tinggal hanya beberapa meter dari Makam Bung Karno, tepatnya sebelah timur, di gang sempit ini ternyata sosok wanita yang inspiratif. Ibu tiga anak kelahiran 40 tahun silam itu menjadi perbincangan karena kreatifitasnya dalam memanfaatkan limbah kain kaus.

Dilansir dari Koranmemo.com, alumnus SMA Katolik itu tak menyangka jika keisengannya dalam membuat keset dan sansak tinju ternyata mendapat respon.

“Ya, jelas tak menyangka, karena awalnya memang coba-coba kok. Eh ternyata mendapat simpati dari warga atau pembeli. Ini menjadi penyemangat saya untuk terus berkreasi dan berkarya,” kata wanita ramah ini.

Membuat keset dari limbah kain kaus tidaklah sulit. Kuncinya mau atau niat dan kreatif. Pasalnya, membuat keset dibutuhkan ketelitian dan kesabaran. Limbah kain menurutya selama ini ada di sekitar rumah, tetapi Sulistyowati lebih banyak mengambil di wilayah yang banyak produsen kaus.

“Nah, potongan-potongan kain yang tidak berguna inilah yang saya manfaatkan untuk menjadi keset dan sansak tinju. Saya memulai membuat keset ini baru beberapa bulan. Selain keset saya juga membuat kasur dari spon dan sudah saya jalani selama sepuluh tahun ini,” katanya.

Untuk membuat keset pertama-tama harus memilih bahan. Harga limbah kain itu ia beli Rp 3.500 per kilogram. Dan biasanya, ketika membeli bahan dalam jumlah banyak, sekitar 52 kilogram memakai pikap.

Usai sampai di rumah, limbah kain dipilah-pilih. Selanjutnya dianyam di alat khusus. Nah, di sinilah diperlukan kesabaran atau ketelatenan. “Karena satu keset saja membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Awalnya memang pegal-pegal di tangan, tetapi lama kelamaan akhirnya tidak terasa,” katanya.

Saat ini, dalam sehari dia bisa memproduksi lima keset. Untuk waktu pembuatannya, ketika senggang atau setelah mengerjakan tugas ibu rumah tangga. Ya, maklumlah anak saya tiga. Dan syukur, berkat keset-keset inilah bisa mencukupi keluarga,” katanya.

Selain untuk keset, limbah kain kaus juga dijadikan untuk sansak. “Iya, bisa untuk sansak. Ini menjadi alternatif, karena selama ini sansak berisi pasir, kalau saya berisi dari kain. Sehingga lebih empuk di tangan, tidak sakit,” kata wanita berhijab ini.

Untuk pembuatan sansak juga tidak terlalu sulit. Bahannya dari terpal dan di bagian dalam diisi kain. Sansak tinju ukuran diameter 32 sentimeter dan tingginya satu meter dijual Rp 250 ribu. Jumlah itu lebih murah dibanding sansak berisi pasir.

Saat ini, untuk pemasaran masih dari mulut ke mulut. “Saya yakin ini bisnis yang menjanjikan. Karena tak banyak yang mengerjakan. Apalagi, bahannya juga mudah didapatkan. Kuncinya kemauan dan kesabaran dan tidak usah minder. Toh ini juga bisa menghasilkan uang kok,” katanya.(bl)